Memuliakan Rumah Allah, Memuliakan Hati

21 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada kalanya seseorang memasuki sebuah masjid tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tetapi hatinya mendadak menjadi tenang. Lantunan ayat suci, aroma karpet yang bersih, saf yang rapi, dan suasana yang teduh seolah mengingatkan bahwa ada tempat di dunia ini yang dikhususkan untuk menghubungkan manusia dengan Tuhannya.

Alquran menyebut tempat itu sebagai rumah-rumah yang telah Allah perintahkan untuk dimuliakan. Kemuliaannya bukan semata karena bangunannya megah, melainkan karena di dalamnya nama Allah senantiasa disebut, dipuji, dan diingat dari pagi hingga petang.

فِى بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا ٱسْمُهُۥ يُسَبِّحُ لَهُۥ فِيهَا بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ

Fī buyūtin adzinallāhu an turfa‘a wa yudzkara fīhasmuhu yusabbiḥu lahu fīhā bil-ghuduwwi wal-āṣāl.

"Di rumah-rumah (masjid-masjid) yang telah diperintahkan Allah untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya. Di sana, orang-orang bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang." (QS. An-Nur [24]: 36)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat ini mengarahkan perhatian kepada masjid-masjid, yaitu tempat yang Allah pilih sebagai pusat ibadah, zikir, dan penyebaran petunjuk-Nya. Karena itu, pemahaman terhadap ayat ini lebih didasarkan pada keterkaitan maknanya dengan ayat sebelum dan sesudahnya daripada pada peristiwa sejarah tertentu yang melatarbelakangi turunnya.

Arti Rumah-rumah

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "rumah-rumah" (buyūt) dalam ayat ini adalah masjid-masjid. Allah memerintahkan agar rumah-rumah itu "ditinggikan" (an turfa‘a), bukan sekadar dalam arti dibangun atau diposisikan lebih tinggi secara fisik, tetapi terutama dimuliakan kedudukannya. Bentuk pemuliaan itu mencakup menjaga kesuciannya, membersihkannya, menjauhkan segala bentuk perkataan maupun perbuatan yang tidak pantas, serta menghidupkannya dengan ibadah.

Ibnu Katsir mengutip sejumlah hadis yang menunjukkan keutamaan masjid sebagai tempat yang paling dicintai Allah. Di antaranya sabda Nabi Muhammad ﷺ:

"Tempat yang paling Allah cintai adalah masjid-masjid." (HR. Muslim)

Karena itu, masjid bukan sekadar ruang berkumpul, melainkan tempat yang menjaga hubungan manusia dengan Allah. Di dalamnya nama Allah disebut, Alquran dibaca, ilmu diajarkan, doa dipanjatkan, dan hati dilatih untuk tunduk kepada-Nya.

Frasa "yusabbihu lahu fīhā bil-ghuduwwi wal-āṣāl" menunjukkan bahwa masjid senantiasa hidup dengan tasbih kepada Allah, baik pada pagi maupun petang. Menurut Ibnu Katsir, penyebutan dua waktu tersebut bukan untuk membatasi ibadah hanya pada pagi dan sore, melainkan menggambarkan kesinambungan zikir dan ketaatan sepanjang hari. Masjid menjadi ruang yang terus hidup oleh ibadah, tidak hanya pada saat shalat berjamaah, tetapi juga melalui tilawah Alquran, majelis ilmu, doa, dan amal-amal saleh lainnya.

Ayat ini juga memiliki hubungan yang erat dengan firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 18:

"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian..."

Dengan demikian, memuliakan masjid bukan hanya membangun bangunannya, melainkan juga menghidupkannya dengan kehadiran orang-orang yang beribadah dan menjaga kehormatannya.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|