Mengapa Terjadi Pemadaman Bergilir Massal? Ini Analisis Pakar dan Penjelasan ESDM

19 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemadaman bergilir mulai terjadi di sejumlah daerah di Pulau Jawa. Muncul spekulasi pemadaman disebabkan oleh pasokan batubara yang berkurang, meski rumor itu telah dibantah oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kementerian Energi menyebut pemadaman hanya masalah teknis. 

Lembaga think-tank Institute for Essential Services Reform (IESR) mempertanyakan penjelasan awal gangguan sistem kelistrikan yang menyebabkan pemadaman listrik di sejumlah wilayah di Jawa pada 9 dan 10 Juni 2026 lalu.

IESR mengatakan dalam sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali (Jamali), gangguan pada satu pembangkit seharusnya tidak menyebabkan dengan mudah terjadinya pemadaman massal.

Pemadam massal dapat terjadi jika PLN memang melakukan pemadaman untuk mengurangi beban listrik (load curtailment).

"Dalam sistem kelistrikan Jamali, gangguan pada satu pembangkit atau satu elemen jaringan seharusnya dapat diantisipasi melalui ketersediaan cadangan daya (reserve margin), sistem proteksi, dan redundansi jaringan yang memadai," ujar IESR dalam penjelasannya. 

Di sistem kelistrikan PLN, ketentuan reserve margin mencapai 30 persen harusnya memberikan jaminan keamanan pasokan buat pembangkit. Oleh karena itu, IESR mendesak Kementerian ESDM melakukan investigasi menyeluruh untuk memahami penyebab, faktor pemicu, serta kelemahan sistem yang memungkinkan gangguan berkembang menjadi pemadaman yang meluas.

IESR menegaskan hasil investigasi juga harus disampaikan kepada publik sebagai bentuk akuntabilitas. Menurut lembaga think-tank itu, pemadaman Jamali juga perlu mendapatkan perhatian dari Presiden Prabowo Subianto.

Ini karena berdampak pada ketahanan energi, daya saing, dan kerugian ekonomi dunia usaha dan masyarakat.

“Pemadaman bergilir yang terjadi selama tiga hari terakhir merugikan konsumen secara finansial. Walaupun konsumen berhak mendapatkan ganti rugi, tapi nilai ganti rugi tersebut tidak sebanding dengan biaya dan kerugian yang terjadi akibat pemadaman listrik," kata ujar Chief Executive Officer (CEO) IESR, Fabby Tumiwa, Kamis (11/6/2026).

Rendahnya cadangan bahan bakar

IESR menduga pemadaman bergilir yang terjadi belakangan dipicu rendahnya cadangan bahan bakar di sejumlah PLTU di sistem Jawa-Bali sehingga harus beroperasi di bawah kapasitas optimal.

Keterbatasan pasokan batu bara yang membuat Hari Operasi Pembangkit (HOP) di bawah batas aman. Demikian juga gangguan pembangkit seperti yang terjadi pada PLTGU Jawa 1 membuat pasokan listrik berkurang.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|