Muhammad Akmansyah
Agama | 2026-08-09 08:35:14
Muhammad Akmansyah, Dosen Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung
Kemerdekaan Belum Selesai
Setiap Agustus kita merayakan kemerdekaan. Tetapi, apakah kemerdekaan itu benar-benar sudah selesai? Penjajahan fisik memang telah berakhir, tetapi belenggu bisa hadir dalam bentuk yang lebih halus. Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kekerasan, melemahnya integritas, maraknya ujaran kebencian di media sosial, dan menguatnya individualisme adalah tanda persoalan moral yang serius. Merdeka berarti lebih dari sekadar lepas dari penjajah. Ia menuntut manusia yang berintegritas dan berakhlak.
Krisis spiritual tidak selalu terlihat dari menurunnya ibadah, tetapi dari hilangnya makna hidup, melemahnya hati nurani, dan kaburnya arah moral. Ketika orang kehilangan pegangan batin, penyimpangan sosial lebih mudah tumbuh. Kemerdekaan politik saja tidak cukup. Ia perlu dilanjutkan dengan kemerdekaan moral, yaitu kemampuan manusia membebaskan diri dari keserakahan, korupsi, kebencian, dan belenggu hawa nafsu.
Ketika Kemajuan Kehilangan Arah
Ilmu pengetahuan dan teknologi sudah mengubah nyaris semua sisi hidup manusia. Kemudahan mengakses informasi tidak selalu membuat manusia lebih tenang. Di tengah banjir informasi, banyak orang justru menghadapi kecemasan, kelelahan mental, dan krisis makna.
Masalahnya jarang terletak pada kemajuan ilmu itu sendiri. Persoalan muncul ketika ilmu dipisahkan dari moralitas. Manusia lalu sering dinilai berdasarkan produktivitas, konsumsi, dan kekuatan ekonomi, sementara integritas, kepedulian, dan akhlak kurang mendapat tempat. Akibatnya, kemajuan teknologi tidak selalu diikuti kedewasaan moral penggunanya.
Dalam Islam, akal dikembangkan untuk membangun peradaban, sedangkan wahyu membimbingnya agar tetap berpijak pada nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Ketika keduanya berjalan beriringan, ilmu menjadi sarana kemaslahatan, bukan alat pemenuhan ambisi semata.
Ketika Krisis Spiritual Menjadi Krisis Bangsa
Krisis spiritual tidak hanya berdampak pada kehidupan individu. Dalam kondisi tertentu, ia dapat melemahkan fondasi moral kehidupan sosial. Polarisasi yang meningkat, budaya saling menghina, rendahnya empati, dan semakin dominannya kepentingan pribadi adalah gejala melemahnya fondasi moral. Sementara itu, keluarga, yang semestinya menjadi sekolah pertama akhlak, menghadapi tantangan besar. Orang tua kehilangan waktu mendampingi anak, sedangkan pendidikan karakter kalah oleh tuntutan prestasi akademik dan persaingan ekonomi.
Kita tidak bisa menyalahkan orang tua yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Negara dan masyarakat harus hadir: cuti orang tua, pendidikan karakter di sekolah, dan ruang publik yang ramah anak, semuanya bagian dari tanggung jawab bersama itu.
Ungkapan penyair Mesir, Ahmad Syauqi, terasa relevan:
“Sesungguhnya suatu bangsa akan tetap tegak selama mereka berpegang pada akhlak. Jika akhlak mereka telah lenyap, maka lenyap pula keberadaan mereka.”
Karena itu, perubahan bangsa tidak cukup dimulai dari kebijakan, tetapi juga dari pembenahan hati dan karakter manusia.
Islam dan Kemerdekaan yang Bertanggung Jawab
Dalam perspektif Islam, kebebasan tidak berarti manusia bebas mengikuti semua keinginannya. Kebebasan justru menemukan maknanya ketika manusia mampu mengendalikan diri dan mengarahkan pilihannya kepada kebaikan. Manusia dipandang sebagai makhluk yang dimuliakan, sekaligus diberi amanah membangun peradaban yang berkeadilan.
Al-Qur'an menegaskan, “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-anak Adam...” (QS Al-Isrā’: 70). Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kekayaan, jabatan, atau kecanggihan teknologi, tetapi melekat pada martabat yang dianugerahkan Allah dan menuntut tanggung jawab dalam menjalani kehidupan.
Akal menjadi instrumen untuk berpikir, meneliti, dan berinovasi, sedangkan wahyu menjadi kompas moral agar hasil pemikiran manusia tetap berada dalam koridor yang benar. Ketika akal dipandu wahyu, ilmu melahirkan keadilan, kebermanfaatan, dan peradaban yang bermartabat.
Rasulullah saw. menegaskan pentingnya akhlak melalui sabdanya, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik” (HR Ahmad). Pertumbuhan ekonomi dan kecanggihan teknologi saja belum cukup untuk mengukur keberhasilan sebuah bangsa; kualitas akhlak masyarakatnya ikut menentukan.
Tasawuf: Membebaskan Manusia dari Penjajahan Diri
Tasawuf, salah satu warisan Islam dalam menjawab krisis spiritual, adalah proses membangun manusia dari dalam agar mampu menghadirkan perubahan di tengah masyarakat. Tasawuf tidak mengajarkan manusia melarikan diri dari dunia, tetapi membebaskan manusia dari penguasaan dunia atas dirinya
Imam al-Junaid dikenal menempatkan tasawuf dalam kerangka Al-Qur'an dan Sunnah. Tujuannya adalah mencapai maqām iḥsān, yakni beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya; jika tidak mampu, meyakini bahwa Allah senantiasa melihat kita.
Tasawuf bertumpu pada tazkiyat al-nafs, penyucian jiwa. Al-Qur'an menjelaskan bahwa salah satu misi Rasulullah saw. adalah membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa manusia, serta mengajarkan kitab dan hikmah (QS Al-Jumu'ah: 2). Pembangunan karakter bukan pelengkap dalam pembangunan peradaban, melainkan intinya.
Tradisi tasawuf menawarkan empat praktik pembentukan integritas. Pertama, muḥāsabah: keberanian mengevaluasi diri sebelum menyalahkan orang lain. Kedua, mujāhadah: kesungguhan melawan hawa nafsu yang menjadi sumber berbagai penyimpangan. Ketiga, murāqabah: kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap ucapan dan perbuatan, sehingga melahirkan integritas tanpa bergantung pada pengawasan manusia. Keempat, takhallī dan taḥallī: membersihkan hati dari sifat-sifat tercela lalu menghiasinya dengan kejujuran, amanah, kasih sayang, dan kerendahan hati.
Muḥāsabah dan murāqabah lebih dari ritual batin semata. Jika seseorang terbiasa mengoreksi dirinya dan merasa diawasi Allah, prinsip tersebut tidak berhenti dalam kehidupan personal. Ia dapat membentuk cara seseorang menggunakan amanah, termasuk ketika ia memegang jabatan publik. Keduanya bisa menjadi benteng moral yang memperkuat integritas aparatur publik dan pemegang kekuasaan, sehingga keputusan tidak melulu didikte kepentingan pribadi atau tekanan politik.
Kemerdekaan Sejati Dimulai dari Dalam
Pembangunan fisik, ekonomi, dan teknologi membutuhkan fondasi moral yang kokoh. Ketika integritas dan akhlak melemah, kehidupan bersama ikut terancam.
Merawat kemerdekaan berarti membebaskan diri lebih dulu dari keserakahan, korupsi, kebencian, dan berbagai penyakit hati. Perubahan sosial perlu dimulai dari perubahan individu, tetapi harus diperkuat oleh pembenahan keluarga, lembaga pendidikan, institusi publik, dan kebijakan negara.
Rasulullah saw. juga mengingatkan dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah hati. Membangun bangsa pada akhirnya membutuhkan manusia yang memiliki hati, karakter, dan integritas yang kuat.
Keluarga perlu kembali menjadi sekolah pertama akhlak. Lembaga pendidikan perlu menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan pembinaan karakter. Para pemimpin wajib menghadirkan keteladanan, bukan sekadar retorika. Masyarakat perlu menghidupkan kembali budaya zikir, kepedulian sosial, dan semangat saling menasihati dalam kebaikan. Sebagaimana firman Allah, “...Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS Ar-Ra'd: 28).
Kemerdekaan sejati juga berarti bebas dari penjajahan hawa nafsu, materialisme, dan krisis makna, bukan cuma dari penjajahan bangsa lain. Ketika hati dipenuhi iman, akal dibimbing wahyu, dan akhlak menjadi fondasi kehidupan, Indonesia punya peluang menjadi bangsa yang maju sekaligus bermartabat. Karena itu, kemerdekaan tidak cukup dirayakan setiap Agustus. Ia harus dirawat setiap hari, dimulai dari hati, diwujudkan melalui akhlak, dan dibuktikan melalui tindakan.
Tiga Langkah Merawat Kemerdekaan
1. Berhenti sejenak untuk muḥāsabah. Luangkan lima menit setiap malam untuk bertanya: Sudahkah saya menjadi bagian dari solusi hari ini? Kebiasaan kecil ini melatih kejujuran kepada diri sendiri dan membentuk karakter yang tangguh.
2. Hadir sepenuhnya untuk keluarga. Sediakan satu jam tanpa gawai. Gunakan waktu itu untuk berbincang, mendengar, dan saling menguatkan. Keluarga adalah ruang pertama untuk menanamkan akhlak.
3. Luruskan niat dalam setiap aktivitas. Sebelum bekerja, belajar, atau mengunggah sesuatu di media sosial, tanyakan kepada diri: Apakah ini benar, bermanfaat, dan diridai Allah?
Sebab, perubahan tidak akan terjadi tanpa perubahan dari dalam diri:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra'd: 11)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

4 hours ago
4












































