Minyak Masih Tertekan Amerika-Venezuela, Brent Bertahan di US$60

1 day ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia — Harga minyak menguat tipis pagi ini, tapi tetap dalam poisisi tertekan jika dibandingkan dengan harga minyak di bulan Desember.

Melansir Refinitiv pukul 09.55 WIB menunjukkan minyak Brent (LCOc1) berada di US$60,18 per barel, naik tipis dari sehari sebelumnya di US$59,96, sementara WTI (CLc1) berada di US$56,20 per barel, juga menguat dari US$55,99 pada Rabu (7/1/2026).

Meski naik harian, posisi harga ini masih jauh lebih rendah dibanding akhir Desember. Brent tercatat sempat berada di US$62,38 per barel pada 23 Desember 2025, sebelum terus tergerus hingga mendekati US$60 dalam dua pekan terakhir.

WTI juga bergerak searah, turun dari US$58,38 ke kisaran US$56 pada periode yang sama, mencerminkan tekanan dari sisi sentimen pasokan global.

Tekanan itu datang dari langkah agresif Washington di kawasan Amerika Latin. Pemerintah Amerika Serikat menyita dua kapal tanker yang membawa minyak terkait Venezuela, salah satunya menggunakan bendera Rusia, sebagai bagian dari perluasan blokade terhadap ekspor energi Caracas. Operasi ini dilakukan setelah Washington menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang dituduh terlibat kejahatan narkotika dan menjadi target utama kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump.

Dari sudut pandang pasar minyak, yang paling diperhatikan pelaku pasar bukan hanya drama militernya, melainkan sinyal bahwa pasokan Venezuela justru akan dibuka lebih lebar ke pasar global. Gedung Putih menyatakan akan melonggarkan sebagian sanksi minyak Venezuela dan bahkan berencana menjual hingga 50 juta barel minyak mentah Venezuela yang selama ini terjebak sanksi.

Trump secara terbuka menyebut bahwa minyak Venezuela akan diproses dan dijual oleh Amerika Serikat, lalu hasilnya digunakan untuk membeli produk AS. Skema ini berarti jutaan barel yang sebelumnya terkunci berpotensi kembali masuk ke rantai pasok global, memperbesar suplai di saat permintaan dunia belum menunjukkan lonjakan berarti.

Di sisi lain, Amerika Serikat juga mendorong agar aliran minyak Venezuela yang selama ini menuju China dialihkan. Beijing, sebagai pembeli utama minyak Venezuela, mengecam langkah Washington sebagai bentuk "perundungan". Namun bagi pasar, konflik politik itu diterjemahkan sebagai satu hal: risiko banjir pasokan minyak tambahan dalam beberapa bulan ke depan.

Sentimen inilah yang menekan harga meski konflik geopolitik justru meningkat. Biasanya ketegangan militer mengangkat harga minyak, tetapi dalam kasus ini, pasar membaca arah kebijakan Trump sebagai pro-produksi dan pro-distribusi. Ketersediaan minyak Venezuela yang kembali dibuka, ditambah tekanan terhadap armada "shadow fleet", membuat risiko gangguan suplai justru menurun.

Dengan latar ini, reli kecil pagi ini lebih terlihat sebagai koreksi teknikal ketimbang pembalikan tren.

CNBC INDONESIA RESEARCH

(emb/emb)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|