Foto ilustrasi pengasuhan anak dibuat oleh Artificial Intelligence ChatGpt.
Harianjogja.com, JAKARTA—Kemampuan anak mengekspresikan perasaan tanpa melukai orang lain menjadi bagian penting dalam kecerdasan emosional yang perlu dilatih sejak dini. Pola asuh berkesadaran membantu anak belajar berani bicara dengan cara yang sehat sekaligus membangun kepercayaan diri.
Ada masa dalam kehidupan anak ketika diam tidak lagi mampu menyelesaikan masalah. Mainan direbut, candaan terasa menyakitkan, guru salah memahami situasi, atau teman mulai menjauh. Pada momen itu, anak sering berada di antara keinginan untuk berbicara dan kebingungan tentang bagaimana cara mengungkapkannya.
Sebagian anak memilih diam, sementara yang lain meluapkan emosi secara spontan melalui kata-kata seperti “Aku benci kamu”, “Itu bodoh”, atau “Kamu jahat”. Kata-kata tersebut terdengar tajam karena perasaan yang mereka rasakan memang sedang kuat dan sulit dikendalikan.
Anak Jarang Diajarkan Cara Bicara yang Sehat
Dalam praktik pengasuhan sehari-hari, seperti dikutip dari The Times of India, Jumat (26/2/2026) anak sering diminta untuk bersikap sopan sekaligus berani membela diri. Namun, orang tua jarang menunjukkan bahwa kedua hal tersebut sebenarnya bisa berjalan bersamaan. Padahal, berani bicara bukan hanya soal percaya diri, melainkan kemampuan menyampaikan perasaan tanpa menyerang orang lain.
Keterampilan ini tidak muncul begitu saja, tetapi dipelajari anak melalui pengalaman sehari-hari bersama orang dewasa di sekitarnya.
Memahami Perasaan di Balik Perilaku Anak
Ketika anak marah atau berbicara kasar, fokus orang tua sering langsung tertuju pada perilaku yang terlihat, misalnya dengan mengatakan “Jangan bicara seperti itu” atau “Jadilah anak baik”. Padahal di balik ucapan tersebut terdapat emosi yang nyata. Saat anak mengatakan “Kamu jahat”, bisa jadi sebenarnya ia ingin menyampaikan bahwa dirinya terluka.
Membantu anak menerjemahkan perasaan menjadi kata yang lebih tepat dapat memberi dampak besar. Orang tua bisa mulai dengan pertanyaan sederhana seperti menanyakan apakah anak merasa kesal atau ingin menjelaskan perasaannya kepada orang lain. Pendekatan ini memberi anak kosakata emosional yang sebelumnya belum mereka miliki.
Anak Belajar Bahwa Mereka Bisa Didengar Tanpa Berteriak
Seiring waktu, anak memahami bahwa mereka tidak perlu berteriak untuk didengar. Mereka dapat mengatakan “Aku tidak suka itu” atau “Tolong jangan ulangi lagi”. Kalimat sederhana ini mengubah cara mereka berinteraksi, karena anak tidak lagi menahan perasaan, tetapi juga tidak menyakiti orang lain.
Anak juga belajar dari contoh orang dewasa. Jika mereka melihat konflik diselesaikan dengan kemarahan dan suara tinggi, mereka akan menganggap berbicara berarti mendominasi. Sebaliknya, ketika melihat perbedaan pendapat disampaikan dengan tenang, mereka belajar bahwa kejujuran tidak harus kasar.
Pentingnya Waktu dan Rasa Aman
Tidak semua situasi harus langsung diselesaikan saat emosi sedang memuncak. Memberi waktu hingga perasaan lebih tenang membantu anak belajar merespons secara sadar, bukan sekadar bereaksi spontan.
Selain itu, anak perlu memahami bahwa mereka memiliki hak untuk berbicara. Banyak anak memilih diam karena takut dianggap berlebihan atau merepotkan. Ketika orang dewasa mau mendengarkan tanpa meremehkan, anak akan merasa aman untuk mengekspresikan ketidaknyamanan mereka.
Tujuan utama pola asuh berkesadaran bukanlah membesarkan anak yang tidak pernah menyinggung orang lain, melainkan anak yang mampu mengekspresikan diri dengan jujur tanpa melukai. Anak yang memahami bahwa membela diri tetap bisa dilakukan sambil menjadi pribadi yang baik akan memiliki kecerdasan emosional yang lebih kuat dalam kehidupan sosialnya. Pada akhirnya, keberanian untuk berbicara bukan tentang menang atau kalah, tetapi tentang merasa dipahami dan dihargai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : The Times of India


















































