Jakarta, CNBC Indonesia - Satu istilah yang sering muncul dan membuat investor saham gelisah adalah panic selling. Fenomena ini kerap terjadi saat harga saham turun tajam, indeks pasar melemah, dan berita negatif membanjiri ruang publik.
Banyak investor, khususnya investor ritel, akhirnya mengambil keputusan menjual aset secara terburu-buru karena takut mengalami kerugian yang lebih besar.
Padahal, panic selling justru sering menjadi kesalahan fatal dalam investasi. Alih-alih menyelamatkan modal, keputusan emosional ini kerap membuat investor menjual di harga terendah dan kehilangan peluang ketika pasar pulih.
Lalu, apa itu panic selling, bagaimana proses terjadinya, apa dampaknya bagi investor dan pasar, serta strategi apa yang bisa dilakukan agar tidak terjebak di dalamnya?
Apa Itu Panic Selling?
Mengutip Investopedia, panic selling adalah aksi jual besar-besaran terhadap saham, sektor tertentu, atau bahkan seluruh pasar yang dipicu oleh rasa takut, rumor, atau reaksi berlebihan, bukan berdasarkan analisis fundamental yang rasional. Dalam kondisi penjualan panik, investor:
-
Mengabaikan nilai fundamental perusahaan
-
Fokus pada penurunan harga jangka pendek
-
Mengambil keputusan investasi berdasarkan emosi, bukan data
Secara sederhana, panic selling adalah menjual aset karena panik, bukan karena prospek bisnisnya benar-benar memburuk.
Mengapa Panic Selling Sering Terjadi di Pasar Saham?
Pasar saham tidak hanya digerakkan oleh data ekonomi dan kinerja perusahaan, tetapi juga oleh psikologi pelaku pasar. Ketika sentimen negatif mendominasi, rasa takut dapat menyebar lebih cepat daripada informasi yang rasional. Beberapa faktor yang membuat panic selling mudah terjadi antara lain:
-
Arus berita negatif yang masif
-
Pergerakan harga yang cepat dan ekstrem
-
Rendahnya literasi investasi
-
Efek ikut-ikutan (herd behavior)
Investor sering kali merasa lebih aman mengikuti mayoritas, meskipun keputusan tersebut belum tentu benar.
Bagaimana Panic Selling Terjadi?
Panic selling umumnya mengikuti pola yang mirip. Awalnya, muncul peristiwa eksternal yang dianggap negatif oleh pasar, seperti:
-
Krisis ekonomi
-
Ketegangan geopolitik
-
Kenaikan suku bunga
-
Laporan keuangan perusahaan yang mengecewakan
Harga saham mulai turun. Sebagian investor menjual untuk mengamankan dana. Penjualan ini menekan harga lebih dalam, sehingga memicu investor lain ikut menjual.
Proses ini menciptakan efek domino:
Harga turun → volume jual meningkat → kepanikan meluas → harga semakin jatuh.
Dalam kondisi ekstrem, bursa efek dapat menerapkan trading halt, yaitu penghentian sementara perdagangan untuk meredakan tekanan jual dan memberi waktu bagi pelaku pasar mencerna informasi secara lebih tenang.
Penyebab Utama Panic Selling
1. Berita Negatif dan Sentimen Pasar
Berita buruk seringkali memicu reaksi berlebihan, meskipun dampaknya belum tentu signifikan secara fundamental. Sentimen pasar yang rapuh membuat investor mudah panik.
2. Faktor Psikologis Investor
Manusia secara alami lebih takut kehilangan uang daripada kehilangan peluang. Fenomena ini dikenal sebagai loss aversion, yang menjadi pemicu utama panic selling.
3. Efek Domino dan Herd Behavior
Ketika melihat investor lain menjual, banyak orang merasa harus melakukan hal yang sama agar tidak tertinggal, meskipun tidak memahami alasan di balik penjualan tersebut.
4. Pemicu Teknis
Stop loss otomatis dapat mempercepat tekanan jual, terutama saat pasar bergerak cepat.
5. Tidak Memiliki Rencana Investasi
Investor yang masuk pasar tanpa strategi jelas cenderung bereaksi spontan ketika kondisi tidak sesuai harapan.
Dampak Panic Selling bagi Investor
Bagi investor ritel, dampak panic selling bisa sangat merugikan, antara lain:
-
Menjual saham di harga terendah
-
Merealisasikan kerugian yang seharusnya masih bisa dipulihkan
-
Kehilangan peluang saat pasar rebound
-
Kepercayaan diri dalam berinvestasi menurun
Ironisnya, banyak investor yang panic selling justru kembali membeli saham ketika harga sudah naik lagi.
Dampak Panic Selling bagi Pasar dan Ekonomi
Jika terjadi secara luas, panic selling tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pasar secara keseluruhan.
-
Volatilitas pasar meningkat tajam
-
Harga aset tertekan secara tidak wajar
-
Likuiditas terganggu
-
Kepercayaan investor global menurun
Dalam skala besar, panic selling bahkan dapat memperburuk kondisi ekonomi, terutama jika terjadi bersamaan di banyak pasar.
Panic Selling sebagai Jebakan Psikologis
Panic selling bukan semata masalah analisis yang salah, melainkan kegagalan mengelola emosi. Investor sering kali kalah bukan karena salah memilih saham, tetapi karena tidak siap menghadapi fluktuasi pasar. Pasar saham secara alami naik dan turun. Namun, tanpa pemahaman ini, setiap penurunan harga akan terasa seperti ancaman besar.
Cara Menghindari Panic Selling
1. Fokus pada Fundamental
Saat harga saham turun, evaluasi apakah:
-
Bisnis perusahaan masih berjalan baik
-
Pendapatan dan prospek jangka panjang masih solid
Jika fundamental tidak berubah, penurunan harga bisa jadi hanya bersifat sementara.
2. Miliki Rencana Investasi yang Jelas
Rencana investasi membantu investor tetap disiplin saat pasar bergejolak. Dengan tujuan dan horizon waktu yang jelas, keputusan tidak mudah dipengaruhi emosi.
3. Kelola Risiko Sejak Awal
Diversifikasi portofolio, pengaturan alokasi aset, dan penggunaan stop loss yang rasional dapat mengurangi tekanan psikologis saat pasar turun.
4. Kurangi Paparan Berita Negatif
Terlalu sering memantau pergerakan harga harian dan berita buruk justru meningkatkan rasa panik.
Strategi Investasi Saat Panic Selling Terjadi
Alih-alih ikut panik, investor bisa memilih strategi yang lebih rasional.
Strategi Bertahan
-
Menjaga posisi kas
-
Menahan saham berkualitas
-
Menunggu kejelasan kondisi pasar
Strategi Kontrarian
Sebagian investor berpengalaman justru melihat panic selling sebagai peluang membeli saham berkualitas dengan harga diskon, tentu dengan analisis yang matang.
Pendekatan Jangka Panjang
Secara historis, pasar saham cenderung pulih setelah krisis. Investor jangka panjang yang disiplin sering kali mendapatkan hasil lebih baik dibanding mereka yang sering keluar-masuk pasar.
Pelajaran Panic Selling bagi Investor Ritel
Panic selling mengajarkan bahwa investasi bukan hanya soal memilih saham, tetapi juga tentang mengelola emosi dan ekspektasi. Investor yang mampu tetap rasional di tengah kepanikan, berpegang pada analisis fundamental, dan konsisten dengan rencana investasi memiliki peluang lebih besar untuk mencapai tujuan finansialnya. Pasar boleh bergejolak, tetapi keputusan investasi seharusnya tetap tenang dan terukur.
(dag/dag)
[Gambas:Video CNBC]

















































