Pasokan BBM Kurang, Kapal Nelayan di Cirebon tak Bisa Melaut

4 hours ago 5

Ilustrasi perahu nelayan.

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON -- Kesulitan mendapat pasokan bahan bakar minyak (BBM) dialami para awak kapal nelayan di Pelabuhan Kejawanan, Kota Cirebon. Akibatnya, mereka tidak bisa melaut.

Salah seorang pengurus kapal di Pelabuhan Kejawanan, Tessy (40), menjelaskan, sulitnya memperoleh BBM itu sudah berlangsung sejak sebulan terakhir. Meski tidak mengetahui penyebab pasti kondisi tersebut, namun ia mendengar sekarang ini distribusi BBM sedang terganggu.

“Mungkin dampak dari perang (AS-Israel vs Iran),” katanya, Kamis (16/4/2026).

Ia menyebutkan, kapal berukuran 30 GT membutuhkan BBM sebanyak 24 kiloliter (KL) untuk sekali melaut selama empat sampai lima bulan. Namun ternyata, jatah BBM yang mereka terima saat ini hanya 15 KL sehingga tidak cukup untuk mencari ikan dan cumi hingga Laut Jawa.

“BBM saat ini sangat susah. Dari pemerintah cuma dapat 15 KL. Kami berharap bisa dilebihkan sampai 24 KL. Kalau tidak, ya 20 KL,” jelasnya.

Tak hanya itu, kondisi tersebut semakin diperparah dengan sulitnya mereka memperoleh BBM non-subsidi. “Yang non-subsidi sekarang tidak ada pengisian. Sudah satu bulan ini kosong,” ucapnya.

Selain itu, harga BBM non-subsidi yang sempat tersedia juga sangat memberatkan nelayan. Yakni, di kisaran Rp 11 ribu sampai Rp 17 ribu per liter,” terangnya.

Tessy tidak sendirian menghadapi kesulitan tersebut. Dalam satu kapal, rata-rata terdapat sekitar 13 anak buah kapal (ABK). Dengan lebih dari 100 kapal yang kini tidak beroperasi di Pelabuhan Kejawanan, berarti ada sekitar 1.300 ABK yang terancam menganggur.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|