Perang AS-Iran Mulai Nyusahin Dunia, IMF Beri Warning Ngeri Ini

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Dana Moneter Internasional (IMF) secara resmi mengumumkan akan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global akibat dampak destruktif perang di Timur Tengah. Kabar buruk ini disampaikan langsung oleh bos IMF pada Kamis, yang memperingatkan adanya "efek luka mendalam" pada ekonomi dunia meskipun gencatan senjata yang rapuh mulai diberlakukan.

Kondisi ekonomi dunia diprediksi tidak akan bisa kembali ke titik normal seperti sebelum konflik pecah meski situasi keamanan mulai mereda. Kerusakan pada struktur pasar global dinilai sudah terlalu masif untuk diperbaiki dalam waktu singkat.

"Bahkan dalam kasus terbaik sekalipun, tidak akan ada pengembalian yang rapi dan bersih ke status quo ante," tegas Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, Jumat (10/4/2026).

Georgieva memaparkan bahwa dalam skenario paling optimis yang dimiliki IMF, lonjakan biaya energi, kerusakan infrastruktur, gangguan rantai pasok, hingga hilangnya kepercayaan pasar tetap akan membuat pertumbuhan ekonomi jauh lebih rendah dari yang diharapkan. IMF kini bersiap menyediakan bantuan keuangan darurat hingga US$ 50 miliar (Rp 855,75 triliun) untuk negara-negara yang terdampak, mengingat krisis pangan kini mengancam sedikitnya 45 juta orang.

"Mengingat dampak limpahan dari perang, kami memperkirakan permintaan jangka pendek untuk dukungan neraca pembayaran IMF akan meningkat antara US$ 20 miliar (Rp 342,3 triliun) hingga US$ 50 miliar (Rp 855,75 triliun), dengan batas bawah berlaku jika gencatan senjata bertahan," ujar Georgieva.

Peringatan senada juga datang dari Bank Dunia yang ikut bersiaga menghadapi potensi kebangkrutan di negara-negara berkembang. Krisis yang dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak 28 Februari lalu ini telah melumpuhkan jalur perdagangan utama dan membuat harga minyak mentah melambung tinggi setelah Teheran memblokir Selat Hormuz.

Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, menyatakan kesiapan lembaga yang dipimpinnya untuk menyuntikkan dana bantuan dalam jumlah besar bagi negara-negara yang berada di ambang kolaps. Prioritas bantuan akan diarahkan pada stabilitas fiskal jangka pendek.

"Lembaga kami dapat mengucurkan pembiayaan hingga US$ 25 miliar (Rp 427,87 triliun) dengan sangat cepat ke negara-negara berkembang yang terkena dampak perang. Sebanyak US$ 60 miliar (Rp 1.026,9 triliun) mungkin tersedia dalam jangka panjang jika negara-negara membutuhkannya," kata Ajay Banga pada Kamis (09/04/2026).

Konflik ini menciptakan efek yang tidak merata, di mana negara-negara berpenghasilan rendah yang mengimpor energi menjadi korban paling parah. Kristalina Georgieva menyoroti nasib negara-negara kecil yang berada di jalur logistik paling ujung yang kini terancam kehilangan akses energi sama sekali.

"Coba pikirkan negara-negara kepulauan Pasifik di ujung rantai pasokan yang panjang, yang bertanya-tanya apakah bahan bakar masih bisa sampai ke mereka setelah gangguan parah seperti ini," tutur Georgieva.

Berdasarkan data Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi di kawasan Timur Tengah di luar Iran diprediksi melambat tajam menjadi hanya 1,8% pada tahun 2026. Angka ini mencerminkan penurunan drastis sebesar 2,4 poin persentase dibandingkan dengan proyeksi sebelum perang pecah.

Kenaikan harga minyak, gas, dan pupuk yang ekstrem kini mulai merembet ke sektor pangan yang bisa memicu krisis kemanusiaan global. Situasi ini diperparah dengan pembengkakan utang pemerintah di berbagai negara karena upaya menahan guncangan ekonomi yang terjadi secara beruntun.

"Kenaikan tajam harga minyak, gas, dan pupuk, bersama dengan hambatan transportasi, secara tak terelakkan akan menyebabkan kenaikan harga pangan dan ketahanan pangan yang terancam," bunyi pernyataan bersama pimpinan IMF, Bank Dunia, dan Program Pangan Dunia (WFP).

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|