Pertamina Ungkap Alasan Harga Pertamax Naik

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pertamina (Persero) baru saja melakukan penyesuaian sejumlah harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Salah satunya Pertamax Series yang mengalami kenaikan harga per liter.

Situasi ini sudah sering diprediksi sejak beberapa bulan terakhir, terutama setelah ketegangan di Timur Tengah sempat mengganggu rantai pasok minyak dunia. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah internasional dan meningkatkan tekanan terhadap harga BBM dalam negeri.

Pada Selasa (9/6/2026) malam WIB, Pertamina Patra Niaga mengumumkan kebijakan terbaru tersebut. Republika.co.id kemudian mengonfirmasi kepada Pertamina mengenai latar belakang keputusan menaikkan harga sejumlah BBM nonsubsidi pada Juni ini.

Terutama jika berkaca pada fakta bahwa perusahaan tersebut mampu menahan harga sebelumnya meski kondisi global dilanda ketegangan. Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menyampaikan penjelasan resmi mengenai kebijakan tersebut melalui keterangan Pertamina Patra Niaga.

"Dapat kami sampaikan bahwa penjelasan atas hal di atas telah dilakukan oleh Pertamina Patra Niaga sebagai berikut," kata Baron kepada Republika.co.id, Rabu (10/6/2026).

Melalui keterangan resmi yang disampaikan Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun, penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator. Kebijakan itu diambil sesuai mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan harga pasar keekonomian.

Pertamina Patra Niaga menjelaskan penyesuaian harga BBM nonsubsidi merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat.

"Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat agar terus berjalan optimal," ujar Roberth.

Dalam kebijakan terbaru tersebut, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter. Pertamax Green 95 naik dari Rp 12.900 per liter menjadi Rp 17.000 per liter. Adapun Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex tidak mengalami perubahan harga.

Pertamina juga memastikan harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan. Pertalite tetap dijual Rp 10.000 per liter dan Biosolar Rp 6.800 per liter.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan kenaikan harga Pertamax sebenarnya sudah lama diperkirakan. Menurut dia, secara prinsip harga BBM nonsubsidi mengikuti pergerakan harga internasional sehingga penyesuaian sulit dihindari ketika harga minyak mentah terus meningkat.

"Pada dasarnya BBM nonsubsidi itu floating. Jadi mengikuti harga internasional. Dan semestinya ketika harga ICP sudah meningkat, pada dasarnya jika sudah jauh di atas harga keekonomiannya, mestinya dinaikkan," kata Faisal.

Ia menilai Pertamina selama ini berupaya menahan kenaikan harga karena statusnya sebagai badan usaha milik negara yang juga menjalankan fungsi pelayanan publik. Selama risiko kenaikan biaya masih dapat ditanggung, penyesuaian harga belum dilakukan.

Faisal menilai penundaan penyesuaian harga tersebut pada akhirnya membuat lonjakan harga yang terjadi saat ini menjadi cukup besar. Kondisi itu berpotensi menimbulkan tekanan bagi konsumen dan meningkatkan risiko perpindahan pengguna Pertamax ke BBM yang lebih murah.

"Kalau menurut saya, kenaikan harga Pertamax ini sudah sangat-sangat diprediksi, tinggal menunggu waktu saja. Tapi memang karena mungkin ditunda, sehingga lonjakan kenaikan harganya cukup besar," ujarnya.

Menurut dia, perpindahan konsumen ke Pertalite tidak sepenuhnya mudah karena distribusi BBM bersubsidi telah diatur melalui pembatasan dan pengawasan penggunaan. Karena itu, ruang migrasi konsumsi dari Pertamax ke Pertalite tidak sebesar yang dibayangkan banyak pihak.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|