Pesantren, Pegon, dan Artificial Intelligence: Menyambut Hari Aksara Nasional

1 hour ago 4

Oleh: Fahmi Arif El Muniry, Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hari Aksara Nasional yang diperingati setiap tanggal 8 September, semestinya tidak hanya menjadi momentum mengenang aksara sebagai warisan masa lalu. Ia perlu menjadi ruang untuk memikirkan masa depan literasi. Di tengah perkembangan Artificial Intelligence, aksara tidak cukup diselamatkan dari kepunahan. Ia harus diberi kesempatan hidup, beradaptasi, dan menjadi bagian dari ekosistem pengetahuan generasi digital.

Pesantren memiliki pengalaman panjang menjadikan aksara sebagai medium pengetahuan. Pegon bukan sekadar huruf Arab untuk menulis bahasa daerah. Ia merupakan kreativitas intelektual yang mempertemukan Islam dan kebudayaan Nusantara. Melalui Pegon, turats diterjemahkan, kitab kuning dipelajari, dakwah disebarkan, dan pengetahuan keislaman ditanamkan dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, Pegon tidak layak ditempatkan semata sebagai artefak budaya. Ia adalah teknologi pengetahuan. Santri membaca, menulis, mencatat, dan mewariskan ilmu melalui medium tersebut. Di dalamnya terdapat ta’lim, ta’dib, tazkiyah, khidmah, serta kesinambungan sanad. Yang diwariskan bukan hanya huruf, tetapi cara pengetahuan hidup dan berpindah dari generasi ke generasi.

Kini medium itu berubah. Santri tidak anti terhadap teknologi, bukan hanya kitab dan buku tulis. Ruang belajar juga bergeser dari serambi pesantren menuju layar digital. Perubahan ini tidak harus menjadi ancaman. Justru di sinilah pesantren dapat menunjukkan kekuatan tradisinya, menerima teknologi baru tanpa kehilangan adab, sanad, dan orientasi pendidikan.

Pegon Memasuki Ruang Digital

Pegon Virtual Keyboard menjadi langkah penting dalam perjalanan tersebut. Aksara yang selama ini identik dengan pena dan kertas kini dapat digunakan melalui hand phone. Perubahan alat tampak sederhana, tetapi maknanya besar. Aksara akan tetap hidup apabila hadir dalam perangkat sehari-hari generasi muda, digunakan untuk komunikasi, dokumentasi, dan produksi pengetahuan.

Pelestarian Pegon karena itu tidak cukup dengan menyimpan manuskrip atau menggelar kegiatan seremonial. Aksara harus digunakan, dibaca, dipelajari, dan dikembangkan. Digitalisasi membuka jalan bagi dokumentasi karya Pegon, pengumpulan korpus, penelitian, serta pengembangan teknologi yang kelak mampu mengenali dan mengolah teks. Pelestarian pun berubah menjadi strategi keberlanjutan pengetahuan.

Kajian akademik menguatkan fungsi Pegon dalam pendidikan Islam. Mohammad ’Ulyan, Nurti Budiyanti, dan Shepta Adi Nugraha, “Islamic Education Based on Arabic Pegon Letters in Madrasah Diniyah Al Barokah Watuagung Tambak Banyumas” (Jurnal Iqra’, 2020), menunjukkan hubungan Pegon dengan transmisi pendidikan dan pelestarian warisan keislaman dalam lingkungan pendidikan.

Langkah berikutnya adalah Tarkib Digital. Jika Pegon Virtual Keyboard membawa aksara pesantren ke dalam hand phone, Tarkib Digital membawa tradisi pembelajaran kitab kuning ke ruang digital. Implementasinya hadir dalam Rumah Kitab, menunjukkan bahwa digitalisasi dapat bergerak dari sekadar penulisan menuju pengolahan struktur teks kitab kuning untuk mendukung pembelajaran santri.

Rumah Kitab kemudian menghadirkan gagasan yang lebih luas tentang pesantren virtual. Jika Pegon Virtual Keyboard merupakan lapisan aksara dan Tarkib Digital merupakan lapisan kitab kuning digital, Rumah Kitab menjadi lapisan ekosistem pembelajaran. Ketiganya menunjukkan arah transformasi yaitu aksara, kitab, dan ruang nyantri memperoleh bentuk baru dalam lingkungan digital tanpa memutus tradisi.

Dari Pegon Menuju Artificial Intelligence

Di sinilah Artificial Intelligence menemukan relevansinya. AI membutuhkan data, bahasa, struktur pengetahuan, dan konteks. Pegon Virtual Keyboard menyediakan pintu produksi teks Pegon. Tarkib Digital membuka jalan bagi strukturisasi pengetahuan kitab kuning. Rumah Kitab menyediakan lingkungan pembelajaran digital. Ketiganya dapat menjadi fondasi pengembangan AI yang berakar pada khazanah pesantren.

Bayangkan santri menulis Pegon melalui hand phone, mengakses kitab kuning digital, memahami struktur teks, lalu belajar dalam ruang pesantren virtual. AI dapat membantu transliterasi, pengenalan karakter, pencarian, penerjemahan, dan rekomendasi pembelajaran. Namun, teknologi tetap menjadi khadim. Kiai, guru, sanad, talaqqi, dan adab tidak boleh kehilangan otoritasnya.

Fengchun Miao dan Wayne Holmes, Guidance for Generative AI in Education and Research (UNESCO, 2023), menekankan pendekatan berpusat pada manusia serta perhatian terhadap keberagaman bahasa dan budaya. Prinsip ini relevan bagi pesantren. AI seharusnya memperluas kemampuan manusia, bukan menggantikan proses pendidikan yang membentuk ilmu, adab, dan tanggung jawab.

Pesantren perlu membangun Ekosistem AI Pegon. Langkahnya dimulai dari inventarisasi karya, digitalisasi berstandar, pembangunan korpus, pengembangan pengenalan karakter, dan pemrosesan bahasa. Kiai menjaga konteks dan otoritas. Santri menjadi pengguna sekaligus kontributor. Kampus mengembangkan metodologi, teknolog membangun perangkat, dan pemerintah menyediakan kebijakan serta infrastruktur pendukung dalam khidmah kepada ilmu dan umat.

Hari Aksara Nasional akhirnya dapat menjadi momentum melampaui romantisme pelestarian. Pegon bukan sekadar aksara masa lalu. Dari pena menuju keyboard, dari keyboard menuju kitab digital, dari kitab menuju pesantren virtual, lalu menuju Artificial Intelligence, perjalanan itu menawarkan masa depan. Pesantren harus menjadi fa’il (subjek), menjaga sanad dan adab sambil memimpin inovasi.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|