Preman-Preman Diberangus Petrus, Mayat Bertato Ditemukan dalam Karung di Semak-Semak

4 hours ago 6

Jumat 07 Aug 2026 21:03 WIB

Oleh: Almarhum Alwi Shahab

REPUBLIKA.CO.ID, Pada 2005 ketika Jenderal Polisi Sutarto baru dilantik menjadi Kapolri, banyak pihak memuji gebrakannya. Pasalnya, hanya beberapa hari setelah dilantik, dia membuat kontrak kerja dengan para kapolda dan jajaran kepolisian di bawahnya untuk memberantas judi dan narkoba.

Sampai kini ‘genderang perang’ itu terus ditabah. Di Jakarta operasi dilakukan terhadap diskotik dan tempat hiburan malam. Sejumlah artis yang ikut terjaring diharuskan tes urine. Dalam memberantas penjudian cukup banyak yang telah terjaring pihak kepolisian. Meskipun banyak pertanyaan, kok bandar utamanya masih belum tersentuh?

Tapi, perang terhadap segala bentuk kejahatan masih belum berakhir. Kapolri pun mengeluarkan perintah terhadap seluruh jajarannya, ”Berantas premanisme”. Seperti juga kontrak kerja, perintah ini pun ditindak lanjuti jajarannya. Dan, ramailah berita tentang penangkapan para preman. 

Meskipun masih ada yang menilai kok yang ditangkap kelas teri saja. Rupanya masih banyak preman yang belum jera. Buktinya berita-berita perampokan, perkosaan, dan pemerasan masih banyak terjadi.

Di salah satu pusat bisnis Jakarta: Glodok – Pancoran, preman pernah merajalela. Seorang pemilik toko menceritakan bagaimana para preman memungut parkir sekehendak hati, meminta jatah dari toko dan warung. Mereka memasang tarif Rp 5-10 ribu untuk parkir. Kalau tidak dikasih kaca mobil bisa pecah. Hal yang sama juga terjadi di Tanah Abang. Tentu juga di tempat lain.

Premanisme memang banyak terjadi di kota-kota besar, di dunia. Bukan akhir-akhir ini saja. Seperti pernah dikutip oleh seorang kolumnis di sebuah suratkabar Jakarta, pada April 1965, Robert F Wagner, wali kota New York, melancarkan suatu operasi yang dikenal sebagai Operation Crack-down — si kolomnis menyebutnya sebagai Operasi Kemplang, berperang melawan para bandit. Karena, yang dikemplang adalah pembunuh, perampok, dan mereka yang melakukan kejahatan di malam hari di kereta api bawah tanah New York.

Selama Operasi Kemplang dijalankan, masih terjadi 223 kejahatan. Tapi, jauh menurun dibandingkan sebelum operasi yang mencapai 589 kejahatan di kereta api New York di waktu malam — berarti kejahatan berkurang 62 persen. Hasil ini didapat dengan pengerahan banyak tenaga dan mengeluarkan banyak dana. Operasi berlangsung tiap malam dari pukul 08.00 sampai 04.00 pagi. Untuk lembur dan penambahan polisi menelan biaya 1,8 juta dolar AS.

Pada bulan yang sama sebuah surat kabar memuat berita terjadi perampasan dan penelanjangan di siang hari bolong yang begitu brutal di Jakarta. Peristiwa itu disaksikan cukup banyak orang. Setelah melakukan perampasan, penjahatnya tidak melarikan diri, tetapi berkeliaran di tempat itu untuk beberapa menit kemudian mengulangi kejahatannya.

Karena itulah, Ali Sadikin, gubernur DKI Jakarta saat itu, menyatakan, ”Banditisme di ibu kota harus segera ditumpas”. Tapi, kejahatan di Ibu kota tidak pernah surut. Dan, menjelang akhir 1970-an, Panglima ABRI Jenderal Benny Moerdani dalam upaya membasmi banditisme melancarkan operasi yang lebih dikenal dengan sebutan Petrus (penembak misterius). 

Kala itu, masyarakat sudah maklum bila ada berita surat kabar, “Ditemukan mayat dalam karung”. Bahkan, ada juga mayat bertato yang mengambang di sungai, atau tergeletak di semak-semak.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|