Presiden Baru Kolombia Hidupkan Kembali Industri Minyak dan Gas

4 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOTA -- Presiden baru Kolombia Abelardo de la Espriella berjanji menghidupkan kembali sektor minyak dan gas negara itu, membalik kebijakan energi pemerintahan mantan Presiden Gustavo Petro yang lebih menekankan transisi energi dan perlindungan hutan hujan Amazon.

Dalam pidato pelantikannya, De la Espriella mengatakan ketahanan energi akan menjadi salah satu fokus utama pemerintahannya. Ia menegaskan Kolombia tetap akan menjalankan transisi dari bahan bakar fosil, seperti minyak, gas, dan batu bara, menuju energi bersih seperti angin dan surya. Namun, menurut dia, transisi tersebut tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan industri minyak dan gas yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi negara.

"Saya percaya pada transisi energi, tetapi transisi harus dibangun dari kekuatan, bukan kelemahan, dari swasembada dan bukan dari ketergantungan," katanya, Sabtu (8/8/2026) dikutip dari laman The Associated Press.

Pernyataan tersebut menandai perubahan arah kebijakan energi pemerintahan Petro, yang menjadikan perlindungan Amazon dan transisi dari energi fosil sebagai pilar utama agenda lingkungannya. Sekitar empat bulan lalu, pemerintah Petro menjadi tuan rumah pertemuan internasional yang bertujuan membangun dukungan bagi transisi energi global dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Komitmen untuk memperkuat kembali industri minyak dan gas sebenarnya telah disampaikan De la Espriella selama masa kampanye. Ia berulang kali berjanji meningkatkan produksi minyak dan gas serta mengubah sejumlah kebijakan energi utama yang diterapkan pemerintahan Petro.

De la Espriella menyebut ketahanan energi sebagai "persoalan kedaulatan nasional." Menurut dia, Kolombia tidak akan mencapai kemakmuran jangka panjang dengan mengabaikan sumber daya alam yang dimilikinya.

Ia juga berjanji membangun kembali Ecopetrol, perusahaan minyak dan gas milik negara yang selama ini menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar pemerintah. De la Espriella menuduh pemerintahan Petro telah melemahkan perusahaan tersebut dan mengatakan Ecopetrol akan menjadi "prioritas utamanya".

Presiden baru Kolombia itu juga mengonfirmasi rencana mengizinkan penggunaan metode hydraulic fracturing atau fracking untuk eksplorasi minyak dan gas. Metode tersebut dilakukan dengan menyuntikkan air, pasir, dan bahan kimia ke bawah tanah untuk memecah batuan dan melepaskan cadangan minyak atau gas.

De la Espriella mengatakan fracking di Kolombia akan dilakukan dengan menerapkan standar lingkungan dan teknis yang paling ketat.

Menurut dia, perluasan eksplorasi minyak dan gas dapat meningkatkan pendapatan negara, memperkuat ketahanan energi, dan menarik investasi. Ia memperingatkan sistem energi Kolombia berada dalam "situasi kritis," dengan mengacu pada penurunan cadangan minyak dan gas, tertundanya berbagai proyek energi, serta meningkatnya permintaan listrik.

De la Espriella juga menyinggung ancaman El Nino yang dapat memperburuk kondisi sistem energi Kolombia. Fenomena tersebut biasanya membawa kekeringan berkepanjangan yang berpotensi menurunkan produksi listrik dari pembangkit tenaga air, salah satu sumber utama listrik negara itu.

Dengan semakin dekatnya fenomena El Nino, menurut De la Espriella, waktu pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi semakin terbatas. "Fenomena El Nino tidak akan menunggu kita. Untuk mengatasinya, sangat penting untuk menerapkan solusi yang mendesak," katanya.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|