Pupuk Kaltim Kembangkan Agrowisata Berbasis Pertanian di Gowa

7 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) meresmikan Kampung Sawah Abadi (KSA) Bulutana di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, sebagai kawasan yang mengintegrasikan pertanian berkelanjutan dengan agrowisata. Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat sekaligus menjaga produktivitas lahan pertanian.

AVP Pembangunan Sosial dan Lingkungan Departemen TJSL Pupuk Kaltim Uchin Mahazaki mengatakan, Kampung Sawah Abadi merupakan bagian dari program Pertanian Bulutana Berkelanjutan, Sejahtera, dan Mandiri (PKT Berseri) yang dijalankan sejak 2023.

“Inisiatif ini merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pupuk Kaltim yang hadir sejak 2023, dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat berbasis kolaborasi antara sektor pertanian dan pariwisata,” kata Uchin, dalam keterangannya, Jumat (7/8/2026).

Menurut Uchin, program tersebut tidak hanya menyasar wilayah sekitar area operasional perusahaan, tetapi juga daerah distribusi pupuk sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan lahan pertanian.

“Sulawesi Selatan adalah salah satu pasar Pupuk Kaltim di Indonesia Timur, sehingga menjaga kesuburan lahan di sini menjadi bagian dari tanggung jawab sosial kami,” ujarnya.

Melalui peta jalan PKT Berseri, Pupuk Kaltim mengembangkan berbagai program mulai dari proyek percontohan dekomposer pada 2023 hingga pelatihan budidaya, pengendalian hama, pemupukan berimbang, serta produksi pupuk organik. Perseroan juga membangun eco-trail sepanjang 230 meter untuk mempermudah petani mengangkut hasil panen di kawasan dataran tinggi.

Pada 2025, program diperluas melalui penguatan kelembagaan petani, pengelolaan pascapanen, serta penyediaan alat produksi kompos. Sementara pada 2026, pengembangan difokuskan pada pembangunan infrastruktur, konservasi sawah, penguatan kelembagaan, hingga promosi kawasan agrowisata.

Pupuk Kaltim menargetkan kawasan tersebut menjadi destinasi wisata berbasis pertanian yang terstandarisasi pada 2027 melalui sertifikasi Desa Wisata Hijau Bulutana dan skema insentif konservasi sawah.

Ketua Pengelola Kampung Sawah Abadi Syafruddin mengatakan, pembangunan eco-trail memberikan dampak langsung terhadap produktivitas pertanian. Infrastruktur tersebut mempercepat distribusi hasil panen sehingga petani dapat meningkatkan intensitas tanam.

“Setelah ada jembatan, jika panen hari ini, malamnya bisa langsung sampai di rumah. Itu yang membuat kita bisa langsung laksanakan tiga kali panen dalam satu tahun,” kata Syafruddin.

Menurut dia, produktivitas sawah meningkat dari rata-rata empat ton per hektare menjadi enam hingga tujuh ton per hektare. Indeks pertanaman juga naik dari dua kali menjadi tiga kali panen dalam setahun.

Selain sektor pertanian, masyarakat bersama kelompok pemuda mengembangkan ekosistem agrowisata. Sebagian pendapatan dari kegiatan wisata digunakan kembali untuk membantu penyediaan benih, pupuk, hingga pembayaran pajak lahan petani. Kawasan tersebut juga didukung aplikasi digital Sipadi yang memungkinkan wisatawan mengikuti proses penanaman dan memantau perkembangan tanaman.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan Andi Mirna menilai model pengembangan Kampung Sawah Abadi dapat menjadi contoh pengembangan desa berbasis pertanian dan pariwisata.

“Anak-anak muda yang sudah selesai sekolah di kota tidak perlu malu kembali ke desa dan mengembangkan sektor pertanian. Program seperti ini perlu dikembangkan di daerah lain di Sulawesi Selatan,” kata Andi Mirna.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|