REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Langit pagi di Kota Jambi masih diselimuti mendung ketika satu per satu jamaah memadati halaman Masjid Jami Ba'alawi, di kawasan Arab Melayu, Jambi Seberang. Suasana hening perlahan berubah menjadi khusyuk saat takbir terakhir mereda, digantikan barisan saf yang tertata rapi untuk menunaikan Shalat Idul Fitri.
Usai salam, pelukan dan jabat tangan mengalir hangat di antara jamaah. Namun, bagi masyarakat setempat, Lebaran tidak berhenti pada silaturahim. Di halaman masjid itu, sebuah tradisi lama kembali hidup, ritual yang menghubungkan generasi kini dengan jejak leluhur: “Injak Bumi”.
Tradisi ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah peristiwa kecil yang sarat makna, ketika bayi-bayi yang baru belajar melangkah “diperkenalkan” kepada bumi yang akan mereka pijak sepanjang hidup. Dalam keyakinan masyarakat, setiap langkah pertama bukan hanya urusan fisik, melainkan juga perjalanan spiritual yang perlu disertai doa dan restu.
“Injak Bumi” berlangsung dengan kesederhanaan yang khidmat. Bayi digendong menuju para tokoh agama yang telah menunggu di halaman masjid. Tanpa aba-aba panjang, tangan-tangan yang sarat pengalaman itu mengusap tubuh kecil sang bayi, melantunkan doa lirih yang mengalir seperti bisikan harapan. Kepala bayi dielus perlahan, lalu tubuh mungil itu diturunkan sejenak menyentuh tanah, sebuah simbol perkenalan pertama dengan dunia yang luas dan tak selalu mudah.
Dalam tafsir budaya lokal, sentuhan pertama pada tanah bukan sekadar gerakan fisik. Ia adalah simbol penerimaan, bahwa manusia, sekecil apa pun, adalah bagian dari semesta. Tanah dipandang sebagai ibu yang akan menopang, menghidupi, sekaligus menguji. Maka, setiap bayi yang “diinjakkan” ke bumi seolah diajak berdamai sejak awal dengan kehidupan.
Ritual ini juga menjadi penanda bahwa perjalanan seorang anak tidak pernah benar-benar sendiri. Ada doa orang tua, restu tokoh agama, serta harapan kolektif masyarakat yang menyertainya. Di situlah “Injak Bumi” menemukan maknanya yang terdalam: sebuah ikhtiar kecil manusia untuk menitipkan masa depan pada kehendak Ilahi, seraya tetap memeluk warisan budaya yang diwariskan turun-temurun.
Pagi itu, belasan orang tua terlihat mengantre dengan penuh harap. Abu Umar, salah satunya, menggendong putranya, Muhammad Raska. Ia menyebut tradisi ini telah hidup jauh sebelum Indonesia merdeka, sejak kawasan Jambi Seberang dihuni oleh masyarakat pribumi dan pendatang keturunan Arab.
“Saya sendiri dulu juga menjalani ini. Sekarang giliran anak saya,” ujarnya, dengan nada yang menyiratkan kesinambungan antargenerasi.
Usai prosesi doa, suasana berubah menjadi lebih riuh. Orang tua menaburkan bunga dan uang logam ke udara. Anak-anak kecil yang sejak tadi menunggu langsung berlarian, memunguti koin dengan tawa riang. Momen itu menjadi jembatan antara yang sakral dan yang profan, antara doa yang sunyi dan kegembiraan yang membumi.
Megawati, ibu dari Arsyad, turut merasakan kehangatan tradisi ini. Baginya, ada yang kurang jika anaknya tidak mengikuti ritual tersebut. Keempat anaknya telah melalui prosesi yang sama.
“Saya ingin anak saya didoakan, agar sehat dan menjadi anak saleh,” katanya.
sumber : Antara

6 hours ago
3
















































