Alasan Mengapa Generasi Digital Membutuhkan Kedalaman Buku

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada keheningan tertentu yang hanya bisa ditemukan di antara halaman-halaman buku. Bukan keheningan yang kosong, melainkan keheningan yang penuh, dipenuhi oleh suara-suara yang tidak terdengar oleh telinga namun sangat nyata bagi pikiran.

Di sanalah aksara bekerja dengan caranya yang paling diam namun paling kuat: membuka cakrawala, meredakan riuh di kepala, dan mengubah ruang sempit di sudut kamar menjadi semesta yang tak bertepi.

Setiap 23 April, dunia berhenti sejenak untuk mengenang hal yang sederhana namun semakin langka itu. Hari Buku Sedunia, atau World Book and Copyright Day, bukan sekadar peringatan seremonial yang datang dan pergi tanpa bekas.

Ia adalah pengingat bahwa di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, ada sesuatu yang memerlukan kelambatan, ketelitian, dan kesabaran untuk bisa dinikmati sepenuhnya.

Bagi Indonesia, momentum ini memiliki bobot yang lebih berat dari sekadar agenda global yang harus ikut dirayakan. Ia adalah cermin yang memantulkan sesuatu yang belum selesai dikerjakan: membangun bangsa yang benar-benar melek huruf.

Bukan hanya dalam arti bisa membaca, tetapi dalam arti mampu berpikir kritis, merasakan empati melalui narasi, dan memahami dunia melalui teks yang kaya dan beragam.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Hafidz Muksin, merumuskan tantangan itu ke dalam tiga titik perhatian utama: peran literasi sebagai fondasi karakter bangsa, pentingnya ketersediaan akses bacaan yang merata, dan transformasi bahasa sebagai kunci dalam meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia.

Tiga hal itu terdengar seperti butir-butir program dalam dokumen kebijakan. Namun jika dibaca lebih dalam, ketiganya sesungguhnya adalah pernyataan tentang sesuatu yang sangat manusiawi: bahwa sebuah bangsa tidak bisa tumbuh menjadi dewasa jika warganya tidak pernah dibiasakan untuk duduk, diam, dan membaca.

"Dasar literasi membaca yang berbasis buku bermutu menjadi dasar berliterasi di Indonesia," kata Hafidz. "Literasi merupakan fondasi kebahasaan dan kesastraan yang diwujudkan dalam media buku."

Namun fondasi tidak bisa dibangun di atas tanah yang tidak merata. Dan di Indonesia, ketidakmerataan itu nyata dan serius.

Ada anak-anak di daerah terdepan, tertinggal, dan terluar yang belum pernah memegang buku yang layak, buku yang bukan sekadar penuh kata, melainkan juga penuh dengan dunia yang mengundang mereka untuk masuk dan menjelajah.

sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|