Raja yang Hilang di 'Perang Gowa'

53 minutes ago 2

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap rumah punya cerita. Rumah Andi Makmur Makka, di pinggir pantai Makassar Sulawesi Selatan, misalnya. Bertingkat, terbuat dari kayu keras, antik, penuh kenangan lama, dan terasa seperti sebuah arsip yang memilih tinggal di rumah pribadi.

Ketika saya berkunjung ke sana, Daeng Makka bukan hanya menerima tamu. Dari rumahnya ia mengajak saya berkeliling kota. Satu makam ditunjukkannya, “Ini makam si raja.” Lalu makam lain. “Ini pula.” Kota Makassar seolah menyimpan sejarah di bawah tanahnya.

Yang menarik, puluhan makam raja itu tidak semuanya hadir dengan papan nama dan keterangan seperti museum modern. Sebagian nyaris menjadi anonim. Justru mereka yang terlibat dalam perang melawan kolonialisme lebih mudah dikenali dalam ingatan.

Ada ironi kecil di sana. Sebuah bangsa besar bisa mempunyai begitu banyak makam, tapi belum tentu mempunyai cukup banyak cerita tentang orang yang dimakamkan di dalamnya. Setiap nisan menandai nama kematian, tapi sejarah mereka masih narasi yang tertunda.

Barangkali karena itu saya membaca Perang Gowa 1905–1906 karya A Makmur Makka dengan rasa ingin tahu yang agak berbeda. Buku ini terbit pada 2026, setebal 175 halaman, dicetak oleh penerbit indie Satria Publisher. Peluncurannya dilaksanakan dengan sederhana di Jakarta.

Dari keterangan penulisnya sendiri, buku novel sejarah itu berkisah tentang “ghaibnya” Raja Gowa, I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang. Raja bergelar Sultan Husain Tuminanga ri Bundu’na ini dituturkan hilang di tengah perang melawan Hindia Belanda.

Di sinilah saya merasa judul Perang Gowa agak terlalu besar untuk dikisahkan hanya dalam sekian halaman. Perang Gowa tentu bukan peristiwa kecil. Ia mencakup gerakan militer, politik kerajaan, perlawanan rakyat, strategi kolonial, intrik pejabat, pengkhianatan, dan pergulatan kekuasaan.

Sementara Makmur Makka tidak sedang menyusun ensiklopedia perang. Ia mengambil secuil peristiwa itu, lalu memperbesarnya menjadi dunia cerita: seorang raja yang lenyap, orang-orang yang mencarinya, perang yang terus berkobar, serta kisah cinta yang bergerak di sela-sela dentuman senjata.

Justru “secuil” itulah yang membuatnya berpotensi menjadi karya yang kuat. Sejarah sering terlalu luas untuk ditelan sekaligus. Novel seharusnya tidak perlu menjadi buku pelajaran yang diberi dialog. Ia cukup mengambil satu pintu kecil sebagai fokus, lalu membiarkan pembaca masuk ke rumah sejarah.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|