Raksasa Telko Bisa Tamat, Penggantinya Makin Ramai Diserbu

9 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Dominasi bisnis satelit milik Elon Musk, SpaceX, diperkirakan akan mendisrupsi industri telekomunikasi Amerika Serikat (AS) yang nilainya mencapai US$1,6 triliun atau sekitar Rp29.200 triliun.

Hal itu seiring ekspansi layanan internet satelit Starlink yang terus berkembang dan berpotensi menggerus pangsa pasar pemain telekomunikasi tradisional.

Dalam catatan riset yang dirilis pada Rabu, perusahaan pialang Oppenheimer menyebut penyedia layanan broadband konvensional seperti AT&T menjadi salah satu pihak yang paling berisiko terdampak oleh pertumbuhan Starlink.

Oppenheimer bahkan menaikkan proyeksi pendapatan industri antariksa global pada 2035 menjadi US$800 miliar dari sebelumnya US$500 miliar.

Revisi tersebut dilakukan menjelang penawaran saham perdana (IPO) SpaceX yang sangat dinantikan pasar dan dijadwalkan berlangsung bulan ini.

Ekspansi Starlink juga diperkirakan akan semakin menekan perusahaan kabel yang saat ini sudah menghadapi tren penurunan pelanggan.

Menurut Oppenheimer, sejumlah operator telekomunikasi besar seperti AT&T, Verizon Communications, dan T-Mobile berpotensi mengalami penurunan jumlah pelanggan serta pendapatan yang lebih cepat dalam beberapa tahun mendatang.

Perusahaan menilai Starlink akan semakin mengukuhkan posisinya di berbagai aplikasi dan layanan penting, sehingga mampu mengurangi tingkat perpindahan pelanggan serta meningkatkan daya tawar perusahaan dalam menetapkan harga.

Seiring optimisme tersebut, Oppenheimer menaikkan proyeksi jumlah pelanggan broadband Starlink di AS pada 2030 menjadi 15 juta pelanggan, dari estimasi sebelumnya 10 juta pelanggan.

Tak hanya di bisnis internet satelit, SpaceX juga dinilai berpotensi masuk ke pasar perangkat genggam yang nilainya mencapai setengah triliun dolar AS.

Oppenheimer menilai SpaceX memiliki ambisi untuk menghadirkan teknologi yang pada akhirnya dapat menggantikan peran smartphone.

"Jika SpaceX berhasil menjalankan misinya, perusahaan ini akan menjadi East India Company versi modern di sektor antariksa, mengendalikan jalur, infrastruktur, dan perdagangan di sebuah wilayah baru serta memiliki pengaruh yang menyerupai negara, jauh melampaui korporasi biasa," tulis Oppenheimer dalam laporannya, dikutip dari Reuters, Kamis (4/6/2026).

Sebelumnya, Reuters melaporkan SpaceX dijadwalkan melantai di bursa Nasdaq pada 12 Juni mendatang dan menargetkan valuasi mencapai US$1,75 triliun dalam IPO tersebut.

Valuasi jumbo itu sebagian besar ditopang oleh bisnis Starlink yang telah memiliki lebih dari 10 juta pelanggan di seluruh dunia. Selain itu, bisnis peluncuran roket SpaceX juga dinilai para analis dan investor telah mengubah lanskap akses menuju orbit antariksa.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|