Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman bertemu Presiden Turki Reccep Tayip Erdogan di Turki pada 2022.
REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Turki dan Pakistan menentang penggunaan 'bahasa keras' dalam pernyataan diplomatik untuk mengutuk Iran pada pertemuan para menteri luar negeri Arab dan Muslim di Riyadh pekan lalu. Beberapa sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kepada Middle East Eye.
Dalam pertemuan itu menurut sumber pejabat Barat kepada MEE, Arab Saudi secara khusus mendesak kecaman keras terhadap Iran yang telah menembakkan ratusan rudal dan drone ke kerajaan tersebut sebagai tanggapan terhadap perang AS-Israel terhadap Republik Islam.
“Turki dan Pakistan tidak yakin untuk mengutuk Iran sampai rudal mulai 'berterbangan' di atas kepala,” kata pejabat Barat itu kepada MEE, merujuk pada serangan yang menargetkan Arab Saudi.
Turki baru dibujuk untuk menyetujui bahasa dalam pernyataan tersebut setelah serangan drone dan rudal Iran di Riyadh.
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan lantas mengatakan kepada Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bahwa Teheran setidaknya harus menghentikan serangan ke Riyadh sementara para diplomat berkumpul di sana untuk mencoba menemukan solusi atas konflik tersebut.
Sikap masing-masing
Perbedaan antara negara-negara tersebut tidak berarti adanya perselisihan serius, tetapi menunjukkan bagaimana perang AS-Israel di Iran berdampak ke sikap berbeda pada setiap negara. Posisi mereka berkembang tergantung pada preferensi keamanan nasional masing-masing.

1 day ago
6















































