Satgas Pangan Polda Papua imbau pedagang tidak timbun minyak goreng.
REPUBLIKA.CO.ID, JAYAPURA, – Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polda Papua mengimbau para pedagang untuk tidak melakukan penimbunan minyak goreng bersubsidi yang dapat menyebabkan kelangkaan dan lonjakan harga. Imbauan ini disampaikan menyusul hasil pemantauan stok dan harga di pasaran yang dilakukan tim pada Kamis di Jayapura.
Kasatgas Pangan Polda Papua Kombes Rama Samtama Putra mengatakan, monitoring dilakukan untuk memastikan ketersediaan komoditas tersebut sekaligus memantau pergerakan harganya. "Imbauan kepada pedagang agar tidak menyimpan barang dilakukan guna mengantisipasi hal tersebut," tegasnya.
Stok MinyaKita Aman, Harga Bervariasi
Dari hasil pemantauan di lapangan, persediaan minyak goreng bersubsidi merek MinyaKita di Jayapura dinyatakan aman. Bulog telah memasok sebanyak 90.000 liter atau setara lima kontainer yang sudah tiba di Jayapura. Meski stok melimpah, harga jual di tingkat pedagang masih bervariasi.
Pedagang yang bekerja sama dengan Bulog menjual MinyaKita sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yakni Rp15.700 per liter. Namun, di luar jaringan tersebut, harga jualnya bervariasi hingga mencapai Rp20.000 per liter.
Keluhan Warga soal Harga dan Pembatasan
Kondisi ini dikeluhkan oleh warga. Fatimah, seorang ibu rumah tangga yang berbelanja di Pasar Hamadi, mengaku tidak semua pedagang menjual MinyaKita sesuai HET. "Sebagian besar menjual dengan harga Rp20.000 per liter hingga Rp22.000 per liter," ungkap warga Argapura, Jayapura, itu.
Ia menambahkan, pedagang yang menjual sesuai HET justru memberlakukan pembatasan pembelian. Setiap pembeli hanya diperbolehkan membeli maksimal dua liter minyak goreng.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

1 week ago
25

















































