Stok Beras Bulog Tembus 5,36 Juta Ton, Rekor Tertinggi

9 hours ago 2

Stok Beras Bulog Tembus 5,36 Juta Ton, Rekor Tertinggi

Foto Ilustrasi sejumlah pekerja mengangkut beras di Gudang Bulog Kelapa Gading. - Antara /Erlangga Bregas Prakoso

Harianjogja.com, JAKARTA—Perum Bulog mencatat stok beras nasional yang dikelola perusahaan mencapai 5,36 juta ton hingga Mei 2026. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan cadangan beras pemerintah sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Ketersediaan stok beras itu didukung kapasitas penyimpanan mencapai sekitar 6,2 juta ton yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Infrastruktur tersebut terus diperkuat untuk mengantisipasi peningkatan produksi padi nasional sekaligus mendukung stabilisasi pangan di tingkat nasional.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan capaian stok beras saat ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

“Saat ini stok beras yang kami kelola sekitar 5,36 juta ton, stok tertinggi dalam sejarah, dengan total kapasitas simpan yang disediakan sekitar 6,2 juta ton,” kata Rizal saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin (25/5/2026).

Menurut Rizal, kapasitas penyimpanan tersebut akan terus diperkuat seiring meningkatnya produksi padi nasional agar Bulog semakin optimal menjalankan penugasan pemerintah, khususnya dalam pengelolaan cadangan beras pemerintah (CBP) dan stabilisasi pangan.

Dari sisi pengadaan, Bulog hingga saat ini telah menyerap sekitar 2,8 juta ton beras dari target 4 juta ton sepanjang 2025. Penyerapan tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan harga di tingkat petani maupun konsumen.

“Melalui penyerapan hasil produksi dalam negeri, kami tidak hanya menjaga ketersediaan beras, tetapi juga turut menjaga keseimbangan harga di tingkat produsen dan konsumen,” ujarnya.

Rizal menambahkan Bulog memiliki jaringan sarana dan prasarana yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari gudang penyimpanan, sistem logistik, hingga fasilitas pengolahan gabah dan beras. Infrastruktur tersebut menjadi tulang punggung penting dalam menjaga rantai pasok pangan nasional tetap kuat dan efisien.

Untuk memperkuat pengelolaan hasil panen, Bulog juga akan menambah infrastruktur pascapanen di 100 titik pada tahun ini. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas penanganan hasil pertanian sekaligus mempertahankan swasembada pangan secara berkelanjutan.

Selain memperkuat infrastruktur, Bulog juga menggandeng kalangan kampus dan generasi muda melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Peran Kampus dalam Mewujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan untuk Cadangan Pangan Pemerintah” yang digelar di Kompleks Pergudangan Utama Bulog Kota Cimahi, Jawa Barat.

Menurut Rizal, kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung pengelolaan cadangan pangan pemerintah, mulai dari manajemen stok, pengawasan kualitas beras, hingga peran infrastruktur pangan dalam menjaga ketersediaan bahan pokok bagi masyarakat.

Ia menegaskan upaya memperkuat swasembada pangan membutuhkan sinergi lintas sektor, termasuk kontribusi aktif dunia kampus sebagai pusat riset, inovasi, dan pengembangan gagasan baru di sektor pangan nasional.

“Di titik inilah Bulog menjalankan perannya sebagai instrumen negara dalam menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilisasi pangan,” ucap Rizal.

Bulog berharap keterlibatan mahasiswa dan akademisi dapat memperkuat literasi pangan nasional sekaligus mendorong lahirnya inovasi baru untuk mendukung ketahanan pangan Indonesia dari hulu hingga hilir melalui kolaborasi antara pemerintah, petani, dunia pendidikan, dan generasi muda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|