REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) membukukan kinerja operasi di perairan utara Jawa Barat. Melalui sumur pengembangan LLA-6 di Platform LLA, perusahaan mencatatkan awal produksi sebesar 1.321 barel minyak per hari (barrel oil per day/BOPD) dan gas dua juta standar kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD).
Semburan hidrokarbon dari sumur ini mengalir dengan kadar air (Basic Sediment and Water/BSW) 0 persen. Senior Manager Subsurface Development & Planning PHE ONWJ, Adang Sukmatiawan, membeberkan capaian ini melibatkan proses kalkulasi dan evaluasi matang dari kampanye pengeboran sebelumnya yang diaplikasikan di sumur ini.
"Keberhasilan sumur LLA-6 ini kami dapatkan dari lesson learned Sumur LLE-5ST yang kami bor tahun lalu. Mengingat lapisan targetnya sama, formulasi dan strateginya kami sempurnakan. Hasilnya terbukti, kami bisa mendapatkan produksi yang sangat baik dengan eksekusi yang jauh lebih matang," ungkap Adang dalam siaran persnya, Senin (18/5/2026).
Adang menjelaskan, Sumur LLA-6 mulai ditajak pada 24 Maret 2026 secara directional menggunakan Rig PVD-II. Mata bor menembus hingga kedalaman akhir 5.407 kaki kedalaman terukur (feet measured depth/ftMD) atau setara dengan 3.561 kaki true vertical depth (ftTVD), yaitu kedalaman vertikal sebenarnya dari titik tersebut ke permukaan bumi. Seluruh rangkaian ini, mulai dari fase pengeboran hingga uji alir produksi pada 2 Mei 2026, mampu diselesaikan dengan cepat, hanya dalam waktu 33 hari.
Kecepatan ini sangat ditunjang oleh kelancaran operasi di laut. Seluruh proses mobilisasi alat hingga unloading material pendukung dari kapal ke fasilitas rig berjalan presisi tanpa kendala cuaca atau logistik yang berarti.
Sumur LLA-6 merupakan sumur pengeboran pertama di Anjungan LLA setelah lebih dari 24 tahun tidak ada aktivitas pengeboran di Platform LLA. Dalam menyiapkan sumur pengeboran ini, Tim Subsurface berkoordinasi secara intensif dengan berbagai pihak dalam menghadapi banyak tantangan di Platform LLA, seperti isu bubble di dasar laut, risiko shallow gas hazard, serta risiko drilling fluid loss di lapisan parigi dan pre-parigi.
Sumur ini menembus Lapisan LL-30 lebih updip 60 kaki dibandingkan LLE-5ST. Tim Subsurface telah menyiapkan peralatan pengeboran mulai dari pengambilan gradien tekanan hingga analisis komprehensif yang membuktikan Sumur LL-30 masih berpotensi dan terbukti memproduksi minyak. Data Sumur LLA-6 ini memberikan potensi yang lebih besar dari Lapisan LL-30 di area baru selatan yang dapat dikembangkan lebih lanjut melalui pengeboran sumur berikutnya.
Durasi pengerjaan yang singkat ini langsung berdampak positif pada efisiensi anggaran. Berdasarkan estimasi lapangan terkini, total biaya yang terserap untuk Sumur LLA-6 hanya berada di angka 61,5 persen dari Authorization for Expenditure (AFE) yang telah disetujui SKK Migas. Penghematan hingga nyaris 40 persen ini menjadi torehan prestasi tersendiri.
General Manager PHE ONWJ, Muzwir Wiratama, memberikan apresiasi penuh atas kerja keras seluruh tim yang terlibat. Baginya, capaian hasil maksimal dengan biaya efektif ini adalah wujud nyata dari upaya ketahanan energi domestik yang berkelanjutan.
"Eksekusi rencana kerja yang aman, tuntas lebih cepat, dan dengan hasil yang jauh lebih baik ini merupakan pembuktian dari spirit PHE ONWJ, yakni ‘Safer, Faster, Better’. Keberhasilan ini sangat istimewa karena kita tidak hanya memikirkan seberapa besar lifting yang didapat, tapi juga seberapa efisien biaya yang dikeluarkan," tegas Muzwir.
Saat ini seluruh armada dan tim PHE ONWJ langsung mengalihkan fokus operasional. Mata bor kembali disiapkan untuk menembus target berikutnya di Sumur LLA-5 dan LLA-7. "Masih ada beberapa rencana kerja bor dengan target lapisan yang sama ke depannya," kata Muzwir optimistis.

2 hours ago
1
















































