Terungkap Ini Alasan Sebenarnya Pedagang Mogok Jualan Daging Sapi

3 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Pedagang daging sapi akhirnya buka suara terkait aksi mogok jualan yang terjadi beberapa waktu lalu. Aksi tersebut dipicu lonjakan harga sapi hidup di tingkat feedlot atau penggemukan yang terus naik dan dinilai memberatkan pedagang.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Jaringan Pemotongan dan Pedagang Daging Indonesia (DPP JAPPDI), Asnawi menyebut harga sapi hidup melonjak tajam dari yang sebelumnya Rp47.000 menjadi Rp55.000 per kg dalam waktu singkat.

"Harga (timbang sapi hidup) dari Rp47.000 per kg. Nah Rp47.000 itu naik ke Rp55.000 yang sekarang ditetapkan. Berapa kenaikannya itu? Udah Rp8.000," kata Asnawi kepada CNBC Indonesia, Kamis (29/1/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan harga tersebut sudah terjadi sejak akhir 2025. Pada November hingga Desember 2025, harga timbang hidup sapi mengalami kenaikan secara bertahap, dari sebelumnya Rp47.000 menjadi Rp53.000 per kg, terutama saat periode Natal dan Tahun Baru (Nataru).

"Nah, itu bulan November 2025, masuk di bulan Desember itu dari Rp47.000 jadi Rp53.000 per kg harga timbang hidup, naik terus tuh," ujarnya.

Memasuki awal Januari 2026, harga kembali naik.

"Januari tanggal 5, harga dari Rp53.000 jadi Rp54.500. Nah, itu awal muasalnya," kata Asnawi.

Kenaikan tersebut berdampak signifikan pada biaya per ekor sapi.

"Sebelumnya hanya Rp94.000 per kg, naik jadi Rp109.000. Berapa naiknya? Rp13.000. Rp13.000 x 250 kilo, berapa juta? Rp3 jutaan," ujarnya.

Ia menegaskan, beban kenaikan itu ditanggung pedagang dan berpotensi diteruskan ke konsumen.

"Jadi kenaikan per ekor sapi Rp3-4 jutaan per satu ekor sapi. Siapa yang tanggung? Pedagang. Siapa yang harus tanggung lagi sampai hilirnya? Masyarakat, konsumen, rakyat," tegas dia.

Asnawi menuturkan, sebelum aksi mogok dilakukan, harga timbang sapi hidup bahkan sempat menyentuh Rp55.500 per kg. Jika ditambah biaya operasional sekitar Rp1.200 per kg, maka harga riil bisa menembus Rp56.700 per kg.

"Sedangkan HAP itu Rp56.000 per kg (harga timbang sapi hidup). Jadi kan sudah naik itu," katanya.

Menurutnya, tanpa aksi mogok, harga sapi hidup berpotensi terus meningkat.

"Ditanya, 'berapa Pak Asnawi?', saya bilang 'Pak, ini kalau nggak dikunci harga ini terus naik ke Rp58.000 (per kg). Kalau Rp58.000, ujung-ujungnya udah Rp60.000 sampai Rp61.000 per kg, Pak. Kalau harga itu sudah Rp60.000 sampai Rp61.000, rata-rata sapi potong timbang karkas itu udah di posisi Rp120.000 per kg tulang daging'," ujarnya.

Ia memperingatkan, jika harga tulang daging sudah menyentuh Rp120.000 per kg, maka harga daging di tingkat konsumen akan melonjak tajam.

Pedagang daging segar di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (23/1/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)Foto: Pedagang daging segar di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (23/1/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
Pedagang daging segar di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (23/1/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

"Kalau tulang daging udah Rp120.000 per kg, harga jual daging (di tingkat konsumen) udah di atas Rp160.000 per kg. Sekarang kan pasti rata-rata Rp130.000-Rp135.000 per kg," terang dia.

Lebih lanjut, Asnawi menuturkan harga timbang hidup sapi yang dikunci di angka Rp55.000 per kg saat ini belum memasukkan berbagai biaya operasional, seperti transportasi, tenaga kerja, pakan, hingga sewa kandang di rumah potong hewan (RPH).

"Jadi kalau Rp55.000 per kg itu modal dasar belinya sapi di feedlot (penggemukan). belum ada nilai tambah dari rentetan biaya operasional," terang dia.

Setelah seluruh biaya diperhitungkan, modal pedagang daging rata-rata sudah berada di kisaran Rp129.973 atau dibulatkan Rp130.000 per kg.

"Harga daging itu teman-teman punya modal sudah Rp129.973 atau dibulatkan Rp130.000 per kg. Itu modal," ujar Asnawi.

Ia pun menegaskan, harga jual daging di tingkat konsumen sebenarnya hanya mengambil sedikit keuntungan dari modal para pedagang.

"Jadi konsumen terima harga daging rata-rata beli di pasar itu, di posisi harga hanya berkisar Rp135.000-Rp140.000 per kg tertinggi. Kayaknya nggak ada itu Rp140.000, rata-rata Rp135.000," ucap dia.

Lebih lanjut, Asnawi menegaskan, aksi mogok yang dilakukan para pedagang daging beberapa waktu lalu, agar harga timbang sapi hidup di tingkat feedlot tidak terus dinaikkan.

"Kalau kita nggak mogok, itu harga naik terus. Karena dianggap pedagang nerima-nerima saja, nggak berontak," pungkasnya.

(wur)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|