Jakarta, CNBC Indonesia - Perpindahan operasional TikTok di Amerika Serikat (AS) memicu guncangan. Pengguna ramai-ramai menghapus aplikasi dan beralih ke platform penggantinya.
Hal ini dipicu ketidakpercayaan pengguna terhadap manajemen TikTok yang baru, yakni entitas gabungan yang digadang-gadang 'dekat' dengan Presiden AS Donald Trump. Salah satunya adalah Oracle yang pendirinya, Larry Ellison, diketahui sebagai sekutu Trump.
Ramai beredar di media sosial terkait perubahan kebijakan TikTok pasca divestasi ByteDance asal China. Salah satunya terkait data yang kemungkinan bakal dihimpun TikTok, mencakup data pribadi sensitif seperti ras dan etnik asal, serta orientasi seksual. Ada juga permintaan untuk data seperti kewarganegaraan atau status imigrasi, serta informasi keuangan.
Meskipun poin-poin itu memicu kontroversi yang ramai di media sosial, tetapi bahasa-bahasa yang digunakan dalam deskripsinya sebenarnya bukan hal baru. Versi sebelumnya yang sudah diarsipkan dari Agustus 2024 silam memasukkan poin-poin serupa.
Namun, poin-poin tersebut viral bersamaan dengan pengumuman operasional TikTok di bawah perusahaan gabungan baru, sehingga menimbulkan sentimen negatif di mata publik.
Selain itu, muncul pula dugaan bahwa TikTok 'membungkam' konten-konten yang mengkritisi Trump atau kebijakan imigrasi pemerintahan AS. Namun, TikTok mengatakan perubahan algoritma dan gangguan yang dialami pengguna disebabkan pemadaman listrik di salah satu data center-nya.
Pasca pengumuman pemindahan operasional TikTok ke entitas AS, firma riset pasar Sensor Tower menyebutkan rata-rata pengguna yang menghapus aplikasi TikTok melonjak 150% dibandingkan tiga bulan sebelumnya, dikutip dari CNBC International.
Aplikasi Tak Terkenal Ramai Diserbu
Berbarengan dengan aksi uninstall TikTok, aplikasi media sosial baru yang belum terkenal bernama 'UpScrolled' tiba-tiba melonjak drastis. Bahkan, aplikasi media sosial yang menawarkan fitur pengeditan video dan unggahan teks, langsung menduduki posisi nomor satu untuk kategori aplikasi gratis di toko aplikasi Apple App Store pada Kamis (29/1) waktu setempat.
Posisi UpScrolled berhasil mengalahkan aplikasi-aplikasi yang lebih populer seperti ChatGPT, Threads, dan Google Gemini, dikutip dari Forbes, Jumat (30/1/2026).
TikTok sendiri berada di urutan yang jauh di bawah UpScrolled di Apple App Store, yakni posisi ke-27 di daftar aplikasi gratis terpopuler.
Pendiri UpScrolled Issam Hijazi mengatakan dalam unggahan di X pada Kamis (29/1) pagi, bahwa pengguna aplikasinya sudah menembus 1 juta orang. Angka itu melonjak drastis dari 150.000 pengguna hanya dalam beberapa hari.
UpScrolled memasarkan aplikasinya sebagai platform yang bebas sensor dan pembatasan (shadowbans). Sebelumnya, aplikasi tersebut buka-bukaan menyebut TikTok, Meta, dan X, sebagai platform yang membungkam suara audiens, mendorong moderasi bias, dan menyembunyikan konten-konten tertentu di balik algoritma.
Sebagai informasi, UpScrolled merupakan aplikasi yang baru berdiri pada Juni 2025. Hijazi sendiri dulunya pernah bekerja di perusahaan-perusahaan besar, termasuk IBM dan Oracle.
Hijazi merupakan pria dengan latar belakang etnis Palestina, Yordania, dan Australia. Dalam laman resmi UpScrolled, disebutkan bahwa ide Hijazi membuat platform media sosial muncul pada 2023 silam, ketika ia menilai banyak konten-konten bermakna yang hilang dari linimasa media sosial mainstream, serta maraknya disinformasi.
UpScrolled menegaskan platformnya tidak memiliki agenda politik dan komersil, sehingga setiap konten memiliki kesempatan yang sama untuk dilihat oleh audiens.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

















































