Trump Warning Kehancuran Negara Komunis Sekutu Rusia di Amerika

5 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan peringatan keras terhadap Kuba dengan menyatakan bahwa negara komunis tersebut akan segera mengalami keruntuhan. Ancaman ini muncul setelah Washington berhasil menangkap pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro, yang selama ini menjadi pemasok minyak utama bagi pulau di Karibia tersebut.

Dalam pernyataannya kepada awak media di restoran Machine Shed di Urbandale, Iowa, pada Selasa waktu setempat, Trump menegaskan bahwa kondisi ekonomi Kuba saat ini berada di ambang kehancuran total.

"Kuba akan runtuh segera. Kuba benar-benar sebuah negara yang sudah sangat dekat dengan kegagalan," ujar Trump di hadapan wartawan dikutip Newsweek, Kamis (29/1/2026).

Pernyataan provokatif ini merupakan kelanjutan dari kebijakan luar negeri Trump yang agresif di belahan bumi Barat. Sejak memerintahkan penggerebekan di Venezuela yang berujung pada penangkapan Maduro bulan ini, Trump telah berulang kali memberikan sinyal bahwa Kuba akan menjadi target berikutnya.

Pada 11 Januari lalu, Trump menegaskan bahwa setelah Maduro ditangkap, tidak akan ada lagi minyak atau dana dari Venezuela yang mengalir ke Kuba.

Data menunjukkan bahwa hingga bulan lalu, sekitar sepertiga kebutuhan minyak Kuba dipasok oleh Venezuela. Selain itu, 44 persen pasokan minyak Kuba berasal dari Meksiko, namun pengiriman tersebut juga telah terhenti di tengah retorika Trump yang berupaya mengisolasi Havana secara total. Kondisi ini menyebabkan kelangkaan bahan bakar yang parah di seluruh penjuru negeri.

Langkah Amerika Serikat ini memicu reaksi keras dari pihak Havana. Duta Besar Kuba untuk Kolombia, Carlos de Cespedes, menuding Washington telah melakukan tindakan ilegal di perairan internasional.

"Amerika Serikat sedang melakukan pembajakan internasional di Laut Karibia," tegas De Cespedes dalam wawancaranya dengan Al Jazeera.

Sentimen serupa juga disampaikan oleh Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel. Melalui unggahan di media sosial X pada 12 Januari, ia menegaskan kedaulatan negaranya dan menolak tekanan dari Gedung Putih.

"Tidak ada seorang pun yang bisa mendikte apa yang harus kami lakukan," tulis Díaz-Canel, seraya menambahkan bahwa AS tidak memiliki otoritas moral untuk memaksakan kesepakatan apa pun pada negaranya.

Di sisi lain, lingkaran dalam Trump tampaknya sedang mempersiapkan langkah lebih jauh. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang merupakan keturunan Kuba, secara terbuka menyebut pemerintahan di Havana sebagai "masalah besar".

Trump sendiri telah mendesak Kuba untuk segera membuat kesepakatan "sebelum terlambat," meski ia tidak merinci kesepakatan seperti apa yang dimaksud.

Laporan dari The Wall Street Journal yang mengutip sumber pejabat anonim menyebutkan bahwa pemerintahan Trump saat ini sedang mengincar pergantian kepemimpinan di Kuba. Washington dikabarkan tengah mencari "orang dalam" di pemerintahan Havana untuk membantu mendorong jatuhnya rezim Komunis tersebut.

Blokade impor minyak yang dilakukan saat ini pun diyakini sebagai bagian dari strategi besar untuk menciptakan krisis domestik guna memicu perubahan kepemimpinan di negara tersebut.

(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|