REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sejumlah wali santri menjemput anak mereka usai viralnya kasus dugaan asusila yang dilakukan oknum salah satu pimpinan pondok pesantren di wilayah Desa Bungkate, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat(NTB). Khuwalid, salah seorang wali santri, mengungkapkan, dia menjemput anaknya sambil menunggu situasi aman.
Dia pun merasa resah dengan keamanan anaknya yang mondok di pesantren tersebut setelah viralnya kasus pencabulan. “Kami tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan, sehingga untuk sementara saya jemput pulang dulu,”kata dia, seperti dikutip dari Antara, Selasa(23/9/2026).
Ketua Komite Pondok Pesantren, Sahnan, mengatakan, sejumlah wali murid memang menjemput anaknya untuk pulang usai merebaknya isu pelecehan. Berdasarkan hasil musyawarah, ujar Sahnan, para santri diliburkan selama tiga hari mengingat keresahan yang menimpa wali santri.
Salah satu guru pesantren, Nawawi, mengungkapkan, aktivitas belajar mengajar di pesantren cukup terganggu dengan adanya isu tersebut. “Anak-anak saat ini sedang ujian, namun kami juga tidak bisa mencegah keinginan para wali murid untuk menjemput anaknya. Jumlah santri di pesantren ini 800 orang lebih,”kata dia.
Polresta Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, mendalami laporan dugaan pelecehan seksual terhadap santriwati yang diduga dilakukan oknum pimpinan pondok pesantren di Desa Bungkate, Kecamatan Jonggat.
"Yang jelas penanganan perkara ini menjadi prioritas utama kami, termasuk mengawal hak santri yang mungkin masih takut melapor," kata Kasatreskrim Polresta Lombok Tengah AKP Punguan Hutahaean di Lombok Tengah, Selasa.
Punguan mengatakan perkara tersebut telah dilaporkan kepada polisi pada Februari 2025. Penyidik kemudian melakukan komunikasi dan pemeriksaan awal terhadap pihak terkait.
"Hanya saja karena kemungkinan para korban ada pertimbangan lain, sehingga memilih untuk investigasi dulu," kata dia.
sumber : Antara

5 hours ago
7













































