
Foto pengamatan visual BPPTKG menunjukkan guguran awan panas di Gunung Merapi, beberapa waktu lalu. - ist/BPPTKG
Harianjogja.com, JAKARTA— Indonesia memiliki 127 gunung api yang masih aktif hingga saat ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 69 gunung dipantau secara intensif oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Beberapa gunung api tersebut memiliki sejarah letusan yang panjang. Saat ini, lima gunung api berada pada status Siaga atau Level III, yakni Gunung Merapi, Gunung Sinabung, Gunung Lewotobi Laki-laki, Gunung Semeru, dan Gunung Anak Krakatau.
Kelima gunung tersebut tersebar di sejumlah wilayah Indonesia dan memiliki catatan aktivitas vulkanik dengan karakter serta sejarah erupsi yang berbeda.
1. Gunung Merapi
Gunung Merapi yang berada di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.
Berdasarkan laman Magma Indonesia Kementerian ESDM, status Gunung Merapi saat ini berada pada Siaga (Level III).
Merapi memiliki riwayat letusan yang cukup banyak. Salah satu letusan paling dahsyat terjadi pada 2010.
Status gunung mulai dinaikkan menjadi Waspada (Level II) pada 20 September dan perlahan status kesiagaannya terus meningkat. Gempa vulkanik juga mulai terasa dan terjadi secara berulang.
Letusan pertama pada rangkaian tersebut terjadi pada 26 Oktober dengan letusan eksplosif yang membawa awan panas.
Puncak letusan terjadi pada 4–5 November dengan aliran awan panas yang mencapai radius 15 km dari puncak gunung. Erupsi tersebut menjadi yang terbesar yang terjadi dalam satu abad terakhir dan menelan hingga 386 korban jiwa.
Museum Gunungapi Merapi mencatat gunung tersebut telah meletus lebih dari 80 kali sejak tahun 1600-an dan rata-rata mengalami letusan setiap 4 tahun sekali.
2. Gunung Sinabung
Gunung Sinabung berada di Kabupaten/Kota Karo, Sumatra Utara. Saat ini, gunung tersebut juga berada pada status Siaga Level III.
Sejak erupsi pada 31 Agustus lalu, BNPB mencatat pada Jumat (4/9) tampak asap putih tebal di kawah utama Gunung Sinabung.
Gunung Sinabung sebelumnya pernah meletus pada 2010. Peristiwa tersebut menjadi letusan pertama yang terjadi sejak tahun 800 Masehi.
Tiga tahun kemudian, rangkaian erupsi kembali terjadi dan menyebabkan hujan abu vulkanik hingga ke Kota Medan.
Status Awas masih diterapkan hingga tahun selanjutnya. Pada 2014, Kementerian ESDM mencatat adanya rentetan gempa, lentusan, dan luncuran awan panas.
3. Gunung Lewotobi Laki-laki
Gunung Lewotobi Laki-laki berada di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Saat ini gunung tersebut berada pada status Siaga (Level III).
Laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat adanya asap putih pada kawah utama gunung pada Minggu (6/9).
Sebelumnya, pada November 2024, status Gunung Lewotobi Laki-laki pernah dinaikkan menjadi Awas (Level IV) akibat erupsi besar.
Erupsi abu vulkanik tersebut menyebabkan sembilan korban jiwa dan ribuan orang harus mengungsi.
Dilansir dari Smithsonian Institution, gunung ini tercatat mengalami erupsi pertama kali pada 1675. Aktivitas erupsi tersebut berlangsung hingga 25 tahun.
Sejak saat itu, erupsi gunung api kembar tersebut terjadi puluhan kali hingga aktivitas vulkanik yang masih berlangsung saat ini.
4. Gunung Semeru
Gunung Semeru di Jawa Timur juga masuk dalam daftar gunung api berstatus Siaga (Level III).
Aktivitas erupsi terbaru Gunung Semeru dikabarkan terjadi pada Minggu (6/9). Saat itu, kolom letusan menyebabkan asap tebal mencapai 1.000 meter dari puncaknya.
Sebelumnya, rentetan erupsi juga terjadi sepanjang Juli lalu.
Gunung Semeru pernah mengalami erupsi dan berstatus Awas (Level IV) pada November 2025. Ketika itu, jarak luncuran awan panas terjauh tercatat hingga 13 km dari gunung.
Erupsi dengan awan panas guguran (APG) tebal juga pernah terjadi pada 2021 dan saat itu status gunung ditetapkan Waspada (Level II).
Letusan kembali terjadi pada 2020, bahkan diikuti muntahan lava pijar dari gunung.
Gunung Semeru memiliki catatan aktivitas erupsi yang panjang. BNPB mencatat aktivitas vulkanik secara beruntun terjadi pada periode 1945–1960 dan 1978–1989.
Aktivitas vulkanik juga terjadi beberapa kali pada periode 1990–2008.
5. Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda ditetapkan pada status Siaga (Level III) setelah erupsi mulai terjadi pada Jumat (4/9).
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dikabarkan masih berlanjut hingga hari ini.
Gunung tersebut juga memiliki sejarah aktivitas vulkanik yang pernah menimbulkan bencana besar. Pada 2018, tsunami melanda daerah pesisir Banten setelah dipicu longsornya lereng Gunung Anak Krakatau akibat aktivitas erupsi.
Bencana tersebut menyebabkan sedikitnya 430 korban jiwa.
Jauh sebelumnya, Gunung Anak Krakatau memiliki keterkaitan dengan sejarah letusan dahsyat pada 1883. Induk gunung ini, Gunung Krakatau, meletus hebat hingga menyebabkan sebagian besar gunung runtuh dan lenyap.
Semburan batu besar diperkirakan mencapai ketinggian 25 km. Suara letusan bahkan terdengar hingga 3.600 km dari gunung.
Abu vulkanik dari letusan tersebut menutupi atmosfer hingga beberapa bulan setelah letusan. Gelombang tsunami setinggi sekitar 30 meter juga melanda pesisir Jawa dan Sumatera.
Letusan Gunung Krakatau pada 1883 menyebabkan hingga 36 ribu lebih korban jiwa dan menjadi salah satu letusan gunung paling merusak dalam sejarah, setelah Gunung Tambora pada 1815.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com

















































