REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH— Di tengah zaman yang dipenuhi reaksi cepat, amarah yang mudah tersulut, dan dorongan untuk membalas dendam, muncul sebuah sikap langka yang menggugah hati dan menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan.
Sikap itu mengingatkan dunia bahwa akhlak mulia masih mampu mengalahkan rasa sakit, dan bahwa iman yang tulus dapat mengangkat manusia melampaui luka serta duka sedalam apa pun.
Warga Arab Saudi, Yahya Al-Qahtani, memperlihatkan pelajaran abadi tentang memaafkan, kesabaran, dan keikhlasan.
Dia mengukir sebuah kisah luar biasa tentang pengampunan dan kekuatan keyakinan yang akan terus dikenang dan diceritakan dengan penuh rasa hormat serta kekaguman oleh generasi mendatang.
Saat putra pelaku pembunuhan terhadap anaknya tengah menanti pelaksanaan hukuman qisas, dan di saat-saat yang paling berat bagi hati seorang ayah, Syekh Yahya Al-Qahtani melakukan sesuatu yang tak pernah terbayangkan.
Dia mendatangi sendiri rumah ibu dari pemuda yang telah membunuh anaknya.
Menjelang pelaksanaan hukuman, ia memasuki rumah itu bukan dengan membawa ancaman atau kemarahan, melainkan dengan membawa kedamaian dan pengampunan.
Di hadapan sang ibu yang diliputi kesedihan, ia menyatakan pencabutan tuntutannya dan memberikan maaf sepenuhnya kepada putranya semata-mata karena Allah Yang Maha Mulia.

1 hour ago
2

















































