Ilustrasi pasukan TNI.
REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL— Aliansi Mesir-Saudi-Turki yang mulai terlihat di cakrawala merupakan titik balik penting dalam sejarah kawasan ini, tetapi menurut para ahli, masih butuh waktu untuk mengatasi tantangan besar yang dihadapi.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengadakan pertemuan puncak dengan mitranya dari Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, di Kairo, setelah melakukan kunjungan ke Arab Saudi.
Setelah KTT Mesir-Turki, Sisi dan Erdogan berbicara tentang kesamaan pandangan mengenai isu-isu regional, terutama yang terjadi di Palestina, dan menegaskan upaya mereka untuk memperluas kerja sama antara kedua negara di berbagai bidang, termasuk militer dan keamanan.
Kesamaan pandangan antara kedua negara ini— bersama dengan Arab Saudi— membuka jalan bagi aliansi yang mungkin melampaui hubungan ekonomi menuju kerja sama yang lebih luas untuk memperkuat aliansi strategis antara ketiga negara, demikian menurut Duta Besar Ali Al-Ashmawi, mantan asisten menteri luar negeri Mesir.
Kepada Aljazeera, dikutip Kamis (5/2/2026), Al-Ashmawi mengatakan dengan membatasi kunjungan presiden Turki hanya ke Riyadh dan Kairo, serta meliput pernyataan akhir dari semua aspek kerja sama, mungkin akan membuka jalan bagi apa yang bisa disebut sebagai "NATO Arab-Islam", terutama jika Pakistan dengan senjata nuklirnya dan Indonesia dengan populasi besarnya bergabung.
“Negara-negara ini, dengan bobot demografis, ekonomi, militer, dan teknologinyalah yang mendorong Presiden AS Donald Trump untuk mundur dari rencananya untuk memindahkan penduduk Jalur Gaza," menurut Al-Ashmawi.
Namun, aliansi ini tidak akan mudah menghadapi tantangan Israel dan Amerika Serikat. Namun, hal yang baik adalah Turki, Mesir, dan Arab Saudi memiliki hubungan yang baik dengan Amerika Serikat dan pandai berurusan dengan pemerintahan Trump.

1 month ago
23
















































