
Oleh: KH Bachtiar Nasir, Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah panggung global yang masih menempatkan Amerika Serikat sebagai kekuatan utama, sebuah retakan justru tumbuh dari dalam. Ia tidak hadir dalam bentuk krisis dramatis seperti 2008, tidak pula dalam bentuk gejolak finansial yang seketika mengguncang pasar. Retakan ini lebih senyap, namun justru karena itu lebih berbahaya: melemahnya fondasi ekonomi rumah tangga yang selama ini menopang stabilitas nasional.
Data terbaru Gallup menunjukkan bahwa lebih dari separuh warga Amerika kini merasa kondisi keuangan mereka memburuk. Ini bukan sekadar indikator tekanan ekonomi. Ini adalah sinyal bahwa sistem yang selama ini menjanjikan stabilitas dan mobilitas sosial mulai kehilangan daya kerjanya.
Yang sedang terjadi bukan lagi siklus ekonomi biasa. Ini adalah dekonstruksi kelas menengah, kelas yang selama puluhan tahun menjadi jangkar politik, sosial, dan ekonomi Amerika. Ketika tabungan terkuras untuk kebutuhan dasar, dan utang konsumtif tumbuh lebih cepat daripada pendapatan, maka keseimbangan lama perlahan runtuh.
Lebih dari itu, struktur tekanan ini bersifat sistemik. Utang kartu kredit yang membengkak dengan bunga tinggi bukan hanya beban finansial, tetapi mekanisme yang mengunci masyarakat dalam ketergantungan jangka panjang. Sementara itu, kemampuan untuk menabung, fondasi dari stabilitas ekonomi individu, tergerus hingga titik yang secara historis dianggap berbahaya.
Namun, dimensi paling eksplosif dari krisis ini bukan terletak pada angka, melainkan pada psikologi massa. Ketika mayoritas warga mulai meragukan data resmi pemerintah, maka yang runtuh bukan hanya kepercayaan terhadap ekonomi, tetapi juga terhadap negara itu sendiri. Dalam kondisi seperti ini, legitimasi tidak lagi dijamin oleh institusi, melainkan diperebutkan oleh narasi.
Di sinilah ekonomi bertemu politik secara paling mentah. Ketidakpuasan ekonomi yang terakumulasi berubah menjadi energi politik yang sulit dikendalikan. Wilayah dengan beban utang tinggi dan tekanan ekonomi berat kini menunjukkan kecenderungan yang sama: menguatnya dukungan terhadap gerakan anti-establishment. Ini bukan sekadar pilihan politik, tetapi ekspresi dari krisis kepercayaan yang lebih dalam.
Warisan polarisasi era Trump mempercepat proses ini. Ia tidak menciptakan ketidakpuasan, tetapi memberi bahasa dan arah bagi kemarahan yang sudah ada. Dalam konteks ini, ekonomi yang melemah bertindak sebagai bahan bakar, sementara polarisasi politik menjadi pemantiknya.
Generasi muda menjadi titik paling rapuh dalam konfigurasi ini. Ketika akses terhadap kepemilikan rumah semakin menjauh dan prospek mobilitas sosial menyempit, maka kontrak sosial yang selama ini dijanjikan Amerika mulai kehilangan legitimasi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, keyakinan bahwa anak akan hidup lebih baik dari orang tuanya tidak lagi menjadi asumsi, melainkan keraguan.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

3 hours ago
1
















































