ARTJOG 2026 Angkat Warisan Antargenerasi dalam Seni Kontemporer

7 hours ago 7

JOGJA— Festival seni rupa ARTJOG kembali digelar di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta. Berlangsung sejak 19 Juni hingga 30 Agustus 2026, ARTJOG tahun ini memperkenalkan kurator tamu Farah Wardani yang akan menemani perjalanan festival selama tiga tahun ke depan.

Farah Wardani merancang tema utama Ars Longa Trilogia yang menyoroti relevansi seni di tengah perubahan sosial, politik, dan ekologi. Tema tersebut dikembangkan menjadi tiga subtema, yakni Generatio (2026), Legatum (2027), dan Mundus (2028).

Mengawali rangkaian tersebut, tema ARS LONGA: GENERATIO dipilih untuk menekankan dialog dan warisan antargenerasi dalam praktik seni kontemporer, sekaligus memaknai ulang peran dan relevansi seni bagi keberlangsungan hidup manusia.

ARTJOG mengundang Roby Dwi Antono yang berkolaborasi dengan Museum of Toys untuk membuat serangkaian karya instalasi patung dan ruang imersif bertajuk GENERATIO: CYCLUS VITAE. Seri karya ini menyoroti pembentukan identitas baru melalui warisan luka dari generasi sebelumnya.

Karya tersebut terbagi dalam tiga bagian. Pada fasad utama, pengunjung dapat menjumpai karya Vulnera: Bekas Luka Antargenerasi yang disusun dari lempeng terakota dengan rongga vertikal di bagian tengah sebagai representasi luka yang mengering.

Memasuki ruang pertama, atmosfer dalam karya Rahim Kolektif dan Generasi Alien secara sentimental mengajak pengunjung mengalami proses penerimaan dan penolakan terhadap warisan melalui sajian figur-figur asing yang dilengkapi rekaman ultrasonografi dari arsip medis janin di dalam rahim seorang ibu.

Sementara itu, pada ruangan terakhir, seri karya Roby ditutup dengan instalasi patung bertumpuk berbentuk kepala dengan tiga wajah berbeda berjudul Generatio Continua: Kematian sebagai Katalis Kelahiran Kembali Sebuah Generasi.

Instalasi tersebut terinspirasi dari filsafat Aztec untuk mengartikulasikan kematian sebagai gerbang pembaruan. Tetesan air mata pada tumpukan patung wajah jatuh ke dalam “Tuk” atau mata air yang melambangkan sumber kehidupan.

Secara keseluruhan, karya Roby memperluas pemahaman tentang peradaban sebagai sebuah siklus panjang yang tersusun dan dibentuk dari pengalaman berlapis, termasuk trauma yang mewariskan rasa sakit, keterasingan, dan kerapuhan.

Pada sudut ruangan lain, pengunjung dapat menjumpai karya instalasi Hanalogi Semata, seniman asal Semarang, yang menyoroti pengalaman nyata para penyintas yang pernah mendapat tuduhan “merah”, termasuk keluarga Hanalogi, yang ditangkap secara paksa tanpa proses yang adil.

Hanalogi menghadirkan representasi karakter-karakter tahanan dalam sebuah ruangan menyerupai kurungan penjara yang didominasi warna merah. Pada bagian depan ruangan, terdapat bilah-bilah vertikal yang menyimbolkan batas antara pihak yang mengamati dan mereka yang diposisikan sebagai objek pengawasan.

Karya ini tidak hanya menyimpan ingatan tentang sejarah kelam masa lampau, tetapi juga menjadi refleksi kritis mengenai bagaimana ketakutan dan pengawasan dalam kekerasan politik terus diwariskan antargenerasi melalui tubuh, cerita keluarga, dan luka sosial hingga hari ini.

Selanjutnya, karya instalasi Dito Gambiro berjudul A Thousand Versions, Souce of Fortune, Between Accounts, Exile Promises, 100%, Study of Security mengajak pengunjung menelusuri peristiwa Kerusuhan Mei 1998 yang membentuk trauma sosial dan psikologis bagi sebagian masyarakat Indonesia.

Ia mengembangkan gagasan tersebut dengan menghadirkan beragam objek yang identik dengan fasad ruko (rumah toko). Karya tersebut terinspirasi dari pengamatannya di kawasan Slipi, Kebayoran, Gajah Mada, dan Harmoni di Jakarta, yang merupakan distrik bisnis hasil gentrifikasi era Orde Baru dan kini telah rusak, terbengkalai, serta terlantar.

Karya ini tidak hanya berfungsi sebagai situs ingatan atas tragedi dan kegagalan masa lampau, tetapi juga menjadi bentuk penelusuran mengenai bagaimana sejarah sosial-politik dan ekonomi saling bertaut dalam membentuk identitas dan kesadaran sosial.

ARTJOG mempertegas gagasan tema ARS LONGA: GENERATIO melalui dua pendekatan, yakni Dialogus dan Prāctica. Presentasi Hanalogi Semata dan Dito Gambiro merupakan bagian dari segmen Prāctica, yang mencerminkan praktik seni dengan beragam isu, wacana, dan semangat zaman yang berkembang di generasi terkini.

Sementara itu, Hermawan Tanzil dan sejumlah kolaboratornya mewakili bagian Dialogus yang berfokus pada perluasan peran seniman, dialog antargenerasi, dan persoalan generasional yang direalisasikan melalui karya kolaboratif.

Hermawan Tanzil dikenal sebagai pendiri LeBoye, firma desain, serta ruang kreatif Dia.Lo.Gue dan Dia.Lo.Gue Dothub. Ia juga berkontribusi dalam membangun ekosistem kreatif di Indonesia melalui bidang arsitektur, branding, dan seni kontemporer.

Pada ARTJOG 2026, ia menciptakan ruang presentasi berjudul Ditanggoeng Tida Loentoer bersama sejumlah kolaborator, yakni Dimas Satria, Garyanes Yulius, Io Woo, Miebie Sikoki, Mohammad Cahyo Novianto, Handhyanto Hardian, dan Hagung Sihag.

Presentasi tersebut menyoroti sejumlah artefak dan arsip visual yang mencakup 750 objek yang dikumpulkan dari 75 kota. Koleksi itu mengungkap bagaimana bahasa visual dan jalur pemikiran desain (design thinking) Indonesia telah menjadi karakteristik tersendiri sejak pertengahan abad ke-20 dalam peta desain global.

Beberapa arsip berupa label tekstil, kemasan, kop surat, dan materi promosi ditampilkan dalam ruangan yang menggabungkan elemen dari periode 1920-an hingga 1960-an dengan pendekatan modern.

Karya tersebut berperan sebagai “museum” temporer untuk mengungkap bahwa estetika visual Indonesia memiliki akar sejarah yang kuat dan melimpah sebagai warisan pengetahuan bagi generasi berikutnya.

“Saya masuk ke ruangan Hermawan Tanzil tadi dan saya melihat bagaimana seorang seniman begitu teliti dan begitu intens menggeluti arsip desain grafis yang bicara sangat kuat dan berdampak kepada saya karena banyak sekali karya-karya grafis yang ternyata mengingatkan saya pada tahapan-tahapan hidup yang saya jalani sebagai orang Indonesia,” ujar Riri Riza, sutradara, penulis skenario, dan pembuat film.

Menurut Riri, desain grafis memiliki tujuan yang jelas sebagai sarana komunikasi. Namun, unsur artistik yang ditampilkan dalam karya seni grafis juga mencerminkan zamannya dan bagaimana setiap generasi membaca seni visual.

ARTJOG 2026 ARS LONGA: GENERATIO mempresentasikan karya dari 44 seniman dewasa, baik individu maupun kolektif, serta 52 karya dari anak-anak dan remaja dalam program ARTJOG Kids.

Selain pameran utama, ARTJOG juga menawarkan berbagai program pendukung, seperti Exhibition Tour, Meet the Artist, performa•ARTJOG, Love ARTJOG, ARTCARE Indonesia, dan Merchandise Project.

ARTJOG 2026 masih berlangsung hingga 30 Agustus 2026 dan dapat dikunjungi setiap hari pukul 10.00–22.00 WIB. Informasi lebih lanjut mengenai pelaksanaan ARTJOG 2026 dapat diakses melalui kanal media sosial resmi serta situs web ARTJOG.(Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|