Harianjogja.com, JOGJA— Sore di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Krapyak, Sewon, Bantul, Selasa (22/9/2026), terasa berbeda. Ratusan pelayat dari keluarga, sanak kerabat hingga rekan sesama seniman berkumpul untuk mengantarkan jenazah Susilo Nugroho ke peristirahatan terakhir sekitar pukul 16.00 WIB.
Sebelum menuju Krapyak, suasana penuh doa dan nostalgia lebih dulu menyelimuti rumah duka di Mantrijeron, Kota Jogja. Dalam Ibadah Penghiburan dan Pelepasan yang berlangsung pukul 15.00 WIB, keluarga melepas kepergian Susilo yang meninggal dunia pada Senin (21/9/2026) di kediamannya.
Perpisahan itu kemudian berlanjut di pemakaman. Di antara para pelayat, kenangan tentang Susilo juga datang dari para alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta.
Suasana semakin haru ketika para alumni bersama-sama menyanyikan Mars De Britto sebagai penghormatan terakhir. Bagi mereka, lagu tersebut bukan sekadar mars sekolah, tetapi menjadi simbol persaudaraan yang tetap terjaga meski jarak dan kematian memisahkan.
“Setiap ada alumni De Britto yang berpulang, kami selalu menyanyikan Mars SMA. Itu tradisi untuk merelakan sekaligus menegaskan bahwa kami tetap kompak,” ungkap Bro Widj (58), adik kelas almarhum angkatan 1986.
Dikenang sebagai Seniman Tulen
Bro Widj mengenang Susilo sebagai seniman tulen yang konsisten nguri-nguri atau melestarikan kebudayaan Jawa melalui humor khas Mataraman.
Rasa kehilangan itu terasa semakin kuat karena baru sekitar dua pekan sebelumnya Susilo masih tampil energik saat menjadi pembawa acara dalam reuni kecil alumni.
“Beliau itu ikon seniman Jogja yang langka. Lontaran dialog dan bahasanya selalu membuat kita yang lama tinggal di perantauan teringat kembali pada akar kebudayaan. Di tengah gempuran tren pop modern, keahlian beliau merawat tradisi sungguh berharga,” tambah Bro Widj.
Bagi penonton televisi era 1990-an, nama Susilo Nugroho sangat lekat dengan karakter Den Baguse Ngarsa dalam serial kenamaan Mbangun Deso di TVRI Yogyakarta.
Karakter antagonis berupa priyayi angkuh, sok nggleleng, suka menyakiti perasaan lawan bicara dan pantang mengalah itu menjadi salah satu peran ikonik Susilo yang membekas di ingatan penonton.
Namun, karakter tersebut justru berbeda dengan sosok Susilo dalam kehidupan sehari-hari.
Danang Agung Satria, sepupu almarhum, mengatakan karakter antagonis tersebut menunjukkan kepiawaian Susilo dalam mengolah peran di dunia teater.
Berawal dari Dunia Pendidikan
Danang mengisahkan perjalanan karier Susilo yang berakar dari dunia pendidikan. Lulusan Universitas Sanata Dharma tersebut mengawali kiprahnya sebagai guru dan sempat mengajar di SMA De Britto.
Dari dunia pendidikan, Susilo kemudian mendirikan kelompok teater hingga akhirnya dilirik media televisi.
“Di layar kaca dia bisa sangat dibenci karena perannya, tapi aslinya dia sosok yang luwes, jenaka, dan sangat hangat di tengah masyarakat,” tutur Danang.
Kecerdasan dan pemahaman Susilo terhadap budaya Jawa juga dirasakan Danang dalam kehidupan sehari-hari.
Bahkan ketika memberi nama anak pertamanya, Danang kerap berdiskusi dan meminta petunjuk kepada Susilo yang dikenal memahami makna filosofi nama-nama Kejawen.
Kedekatan tersebut membuat hubungan keduanya tidak sekadar sebagai keluarga. Danang mengatakan mereka cukup sering berkomunikasi dan saling bergurau melalui sambungan telepon, termasuk membicarakan berbagai hal dalam kehidupan keluarga.
Percakapan terakhir keduanya berlangsung sekitar sepekan sebelum Susilo meninggal. Saat itu mereka sempat membahas kabar keluarga yang tengah berduka.
Bagi Danang, percakapan sederhana tersebut kini menjadi salah satu kenangan terakhir bersama sosok yang selama ini dekat dengannya.
Piawai Menghidupkan Peran
Di dunia seni, Danang melihat Susilo sebagai pribadi yang mampu mengolah bahan sederhana menjadi sesuatu yang hidup ketika dimainkan.
Menurutnya, Susilo memiliki kemampuan mengembangkan bahan cerita atau peran dengan caranya sendiri sehingga karakter yang dibawakan terasa kuat.
Sementara bagi Bro Widj, pertemuan terakhir dengan Susilo dalam reuni kecil sekitar dua pekan sebelumnya kini terasa begitu berkesan.
Saat itu Susilo dipercaya menjadi pembawa acara sekaligus turut menghidupkan suasana pertemuan para alumni sejak awal hingga acara berakhir.
Kenangan dari lingkungan sekolah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Susilo. Bro Widj mengatakan hubungan para alumni De Britto tidak hanya terikat oleh masa sekolah, tetapi juga oleh rasa kebersamaan yang terus dijaga ketika salah satu dari mereka berpulang.
Tradisi menyanyikan Mars De Britto menjadi salah satu bentuk kebersamaan tersebut.
Bro Widj mengaku ikut terenyuh ketika menyanyikan lagu itu di tengah suasana duka. Mars tersebut mengingatkannya kembali pada masa ketika mereka masih bersama di lingkungan sekolah.
Bakat Seni dari Keluarga
Rasa kehilangan terhadap Susilo juga berpadu dengan kesadaran bahwa ia merupakan bagian dari generasi seniman yang memiliki kedekatan kuat dengan budaya Jawa.
Bagi Bro Widj, gaya bahasa dan lontaran humor Susilo menjadi sesuatu yang khas dan semakin jarang ditemukan pada generasi setelahnya.
Kecintaan terhadap kesenian ternyata juga mengalir dalam keluarga Susilo.
Sukanti, kakak kandung Susilo, menceritakan bahwa bakat seni mereka diturunkan dari sang kakek, seorang ahli macapat dan pembuat aksara Jawa yang indah. Bakat tersebut juga datang dari sang ayah yang menggemari seni tembang Jawa.
Meski tumbuh dari akar budaya yang sama, kedua kakak beradik itu memilih jalan ekspresi yang berbeda.
Sukanti memilih mengabdi pada seni musik, sedangkan Susilo memantapkan langkahnya di panggung teater. Di mata keluarga, Susilo merupakan sosok yang selalu bersikap serius dan bersahaja.
Kini, seniman serba bisa itu telah rampung menuntaskan lakon kehidupannya.
Susilo meninggalkan seorang istri dan dua putri yang masing-masing berdomisili di Yogyakarta dan Semarang.
Suara dan gestur ikoniknya mungkin tidak lagi bergema di panggung pementasan. Namun, jejak pengabdiannya dalam merawat kebudayaan Jogja akan terus hidup dalam ingatan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
















































