Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat menyetujui rencana penjualan senjata senilai total US$15,7 miliar atau sekitar Rp250 triliun kepada Arab Saudi dan Israel. Dilansir The Wall Street Jurnal, persetujuan awal ini diumumkan Pentagon pada Jumat malam waktu setempat, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait hubungan Washington dengan Teheran.
Meski telah mendapat lampu hijau dari pemerintahan Presiden Donald Trump, seluruh paket penjualan senjata tersebut masih memerlukan persetujuan Kongres AS sebelum Pentagon dapat memberikan kontrak kepada kedua negara. Proses persetujuan legislatif ini membuka peluang penolakan, dan meski disetujui, pengadaan serta pengiriman persenjataan diperkirakan akan memakan waktu bertahun-tahun.
Berdasarkan ketentuan Kongres, para legislator memiliki waktu 15 hari untuk mengajukan keberatan atas penjualan senjata ke Israel dan 30 hari untuk Arab Saudi, sebagaimana dijelaskan oleh Congressional Research Service. Persetujuan ini muncul ketika militer AS dilaporkan telah mengerahkan kekuatan besar di Timur Tengah yang berada dalam jangkauan serangan terhadap Iran.
Untuk Israel, pemerintah AS mengajukan empat paket penjualan senjata dengan nilai total mendekati US$6,7 miliar. Paket tersebut mencakup hingga 30 unit helikopter serang AH-64E Apache, helikopter utilitas ringan AW-119Kx, sebanyak 3.250 unit Joint Light Tactical Vehicles, serta paket mesin penggerak untuk kendaraan tempur lapis baja pengangkut personel Namer.
Pentagon menyatakan penjualan helikopter Apache tersebut bertujuan untuk memperkuat kemampuan pertahanan Israel dalam menghadapi ancaman saat ini maupun di masa depan.
"Penjualan yang diusulkan akan meningkatkan kemampuan Israel untuk menghadapi ancaman saat ini dan di masa depan dengan memperbaiki kemampuannya dalam melindungi perbatasan, infrastruktur vital, dan pusat-pusat populasi," tulis Pentagon dalam pernyataan resminya.
Sementara itu, Arab Saudi diajukan paket penjualan senjata senilai sekitar US$9 miliar yang mencakup lebih dari 700 unit pencegat rudal Patriot PAC-3. Sistem Patriot tersebut mampu mencegat rudal balistik, rudal jelajah, serta pesawat udara, dan telah digunakan secara intensif dalam konflik di Ukraina.
Pentagon menyatakan penjualan tersebut dimaksudkan untuk memperkuat sistem pertahanan udara Arab Saudi. "Penjualan yang diusulkan akan meningkatkan kemampuan Arab Saudi dalam menghadapi ancaman saat ini dan di masa depan dengan menyediakan rudal pertahanan udara canggih sebagai bagian dari sistem pertahanan udara dan rudal terintegrasi yang ditingkatkan, sehingga memperkuat kemampuan pertahanan udaranya," tulis Pentagon.
Persetujuan awal penjualan senjata ini diumumkan di tengah sorotan terhadap kebijakan luar negeri pemerintahan Trump, yang dalam beberapa bulan terakhir kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran. Dalam konteks tersebut, AS dilaporkan telah mengonsolidasikan kekuatan militernya di Timur Tengah sebagai bagian dari strategi penangkalan.
Penjualan senjata ini juga berpotensi berdampak luas terhadap dinamika keamanan kawasan, industri pertahanan global, serta hubungan diplomatik Amerika Serikat dengan sekutu dan rivalnya di Timur Tengah, seiring meningkatnya eskalasi konflik dan perlombaan penguatan sistem pertahanan.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]














































