Badan Geologi Ungkap Bahaya Ikutan Gempa 7,7 di NTT

4 hours ago 6

Badan Geologi Ungkap Bahaya Ikutan Gempa 7,7 di NTT

Seismograf gempa bumi - Ilustrasi/StockCake


Harianjogja.com, BANDUNG—Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya menimbulkan dampak berupa guncangan kuat. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengidentifikasi sejumlah bahaya ikutan yang perlu diwaspadai, mulai dari potensi likuefaksi, gerakan tanah, retakan tanah, hingga tsunami yang terpantau di sejumlah lokasi terdampak.

Badan Geologi Petakan Potensi Bahaya Pascagempa

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menjelaskan identifikasi tersebut dilakukan berdasarkan dokumentasi lapangan serta laporan awal yang diterima setelah gempa terjadi.

Foto-foto dari lokasi terdampak memperlihatkan berbagai kerusakan akibat guncangan. Sejumlah bangunan mengalami retakan pada dinding, kerusakan komponen bangunan, hingga keruntuhan sebagian struktur.

Selain itu, terdapat laporan mengenai munculnya air dari dalam tanah di beberapa wilayah yang terdampak gempa.

"Selain dampak langsung berupa guncangan, kami juga mengidentifikasi adanya beberapa bahaya ikutan, di antaranya adalah tsunami, gerakan tanah, retakan tanah, serta indikasi likuefaksi," kata Lana, Sabtu.

Menurut Lana, di Waekokak–Mbay dilaporkan terjadi fenomena keluarnya air dari dalam tanah setelah gempa. Sementara itu, di Bonea, Selayar, teramati adanya tsunami kecil yang menjadi bagian dari dampak ikutan bencana tersebut.

Indikasi Likuefaksi Mulai Dianalisis

Berdasarkan laporan tersebut, Badan Geologi langsung melakukan analisis cepat guna mengidentifikasi kemungkinan terjadinya likuefaksi di wilayah terdampak.

Hasil awal menunjukkan adanya peluang terjadinya likuefaksi jika dilihat dari hubungan antara kekuatan gempa dan jarak wilayah terdampak terhadap sumber gempa.

Wilayah yang berada lebih dekat dengan pusat gempa diperkirakan memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi. Kondisi tersebut terutama berlaku pada kawasan dataran aluvium yang terdapat di sebagian wilayah di Kabupaten Nagekeo.

"Perlu saya tekankan bahwa analisis ini merupakan analisis cepat dan menjadi dasar untuk menentukan lokasi yang perlu diprioritaskan dalam verifikasi lapangan," katanya.

Lana secara khusus menyoroti laporan keluarnya air dari dalam tanah yang terjadi beberapa saat setelah gempa di Waekokak–Mbay.

Menurut analisis awal, fenomena tersebut diperkirakan berkaitan dengan gejala likuefaksi dalam bentuk sand boil, yakni semburan air bercampur pasir dan lumpur yang muncul ke permukaan tanah.

Dampak Diperkirakan Tidak Seperti Likuefaksi Palu

Meski terdapat indikasi awal likuefaksi, Badan Geologi menilai dampak terhadap tanah pondasi pada tahap awal diperkirakan berada dalam kategori rendah hingga sedang.

Hasil analisis sementara juga menunjukkan karakteristik fenomena tersebut berbeda dengan kejadian likuefaksi besar yang pernah terjadi di Palu.

"Dari indikasi awal, dampak terhadap tanah pondasi diperkirakan berada pada tingkat rendah hingga sedang dan tidak menunjukkan karakter seperti kejadian likuefaksi tipe Palu yang dapat bergerak jauh."

Meski demikian, Lana menegaskan bahwa seluruh kesimpulan masih bersifat sementara karena memerlukan verifikasi langsung di lokasi terdampak.

"Namun demikian, kesimpulan final tetap membutuhkan identifikasi dan pemeriksaan langsung di lapangan," ucapnya.

Tim Tanggap Darurat Diterjunkan ke Lokasi

Sebagai tindak lanjut dari hasil analisis awal tersebut, Badan Geologi Kementerian ESDM akan mengirimkan Tim Penyelidikan Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi ke wilayah terdampak.

Tim tersebut akan melakukan kaji cepat guna memastikan kondisi lapangan, memperdalam analisis kebencanaan, serta menyusun rekomendasi teknis yang dapat digunakan dalam upaya mitigasi.

"Hasil penyelidikan ini selanjutnya akan kami sampaikan kepada pemerintah daerah dan para pemangku kebijakan sebagai dasar dalam penanganan darurat maupun langkah mitigasi selanjutnya," ucapnya.

Imbauan untuk Masyarakat Pascagempa

Badan Geologi juga mengingatkan masyarakat dan para pemangku kepentingan agar tetap tenang serta mengikuti arahan dari BPBD dan pemerintah daerah.

Masyarakat diminta tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dan tidak mudah mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Selain itu, warga di wilayah terdampak diimbau memeriksa kondisi bangunan sebelum kembali digunakan. Kepatuhan terhadap rambu-rambu serta jalur evakuasi juga perlu terus dijaga.

Masyarakat juga diminta menghindari kawasan tebing yang berpotensi mengalami longsor, terutama saat hujan turun di wilayah terdampak.

"Ke depan, penerapan kaidah bangunan tahan gempa harus menjadi bagian penting dari upaya mitigasi di wilayah rawan," tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|