REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan akan menghentikan impor solar untuk stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta mulai 2026. Solar akan diproduksi dari dalam negeri.
“Mulai tahun ini, saya tidak lagi mengeluarkan izin impor solar. Izin impor solar mulai tahun ini enggak ada lagi,” kata Bahlil saat ditemui di Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin.
Penghentian impor solar tersebut, kata dia, juga berlaku bagi SPBU swasta. Apabila masih terdapat kargo solar yang masuk ke Indonesia pada Januari atau Februari, lanjut Bahlil, maka itu merupakan sisa impor dari tahun 2025.
“Tetapi tahun ini, Kementerian ESDM atas perintah Bapak Presiden Prabowo Subianto, karena kita sudah punya kilang, kita tidak lagi mengeluarkan impor,” ujar dia.
Kilang yang dimaksud adalah proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Refinery Unit V Balikpapan, Kalimantan Timur. RDMP Kilang Balikpapan memungkinkan pengolahan minyak hingga 360 ribu barel per hari. Kapasitas tersebut setara dengan sekitar 22–25 persen atau hampir seperempat dari kebutuhan nasional.
Secara ekonomi, RDMP Balikpapan dinilai akan memberikan dampak signifikan terhadap kemandirian energi nasional, dengan potensi penghematan impor bahan bakar minyak (BBM) hingga Rp 68 triliun per tahun serta kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai Rp 514 triliun.
Ketika disinggung mengenai SPBU swasta yang nantinya akan membeli solar dari Pertamina, Bahlil mengiyakan hal tersebut.
“Iya dong (beli solar di Pertamina). Saya ke depan itu bermimpi, nanti sebentar saya akan lapor ke Presiden, bahwa RON 92, RON 95, RON 98 itu harus diproduksi di dalam negeri,” kata Bahlil.
Rencana penghentian impor solar pada 2026 sebelumnya telah disampaikan Menteri ESDM seiring mulai beroperasinya proyek RDMP Balikpapan serta implementasi program mandatori biodiesel 50 (B50).
Dengan demikian, apabila badan usaha pengelola SPBU swasta membutuhkan pasokan solar, maka dapat memperolehnya dari kilang dalam negeri.
sumber : ANTARA

4 hours ago
1












































