Bank UMKM: Memberdayakan Ekosistem, Bukan Sekadar 'Jualan Uang'

1 hour ago 2

Oleh: Iwan Rudi Saktiawan, Pengamat Ekonomi Syariah; saat ini bekerja di Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sudah menjadi rahasia umum bahwa Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah tulang punggung ekonomi nasional. Namun, di balik narasi "pahlawan ekonomi" yang kerap didengungkan, UMKM nyatanya masih diposisikan sebagai "anak tiri" dalam ekosistem perbankan formal.

Data berbicara lantang: pada awal 2026, Kementerian UKM menyodorkan fakta pahit bahwa 69,5 persen UMKM belum tersentuh kredit perbankan. Merujuk data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), realisasi penyaluran kredit UMKM oleh bank umum dan BPR per akhir 2025 baru mencapai 18,42 persen—masih jauh panggang dari api jika dibandingkan dengan target ambisius pemerintah sebesar 30 persen

Wacana pembentukan bank khusus UMKM bukanlah barang baru. Namun, urgensinya tetap absolut selama celah pembiayaan (financing gap) ini belum terjembatani. Persoalannya, mendirikan bank khusus UMKM bukan sekadar perkara mengganti papan nama atau menambah entitas baru. Tanpa perubahan paradigma yang radikal, bank baru tersebut hanya akan terjebak dalam "lubang jarum" kegagalan yang sama.

Keberadaan bank khusus UMKM harus bertumpu pada dekonstruksi tiga aspek fundamental yang selama ini menjadi dogma perbankan: sistem seleksi, logika bunga/margin, dan paradigma jaminan.

Dari Seleksi Individual ke Kekuatan Ekosistem

Kelemahan utama perbankan saat ini dalam melayani UMKM terletak pada sistem seleksi nasabahnya. Analisis kelayakan individu menciptakan dilema klasik: jika kriteria diperketat, akses UMKM mengecil; jika dilonggarkan, risiko kredit macet (non-performing loan) membayangi.

Solusinya adalah mentransformasi unit layanan dari pendekatan individual menjadi kelompok berbasis satu jenis usaha yang mencapai skala ekonomi. Dengan melayani kelompok, bank tidak hanya menurunkan biaya operasional, tetapi juga meningkatkan posisi tawar UMKM.

Dalam model ini, bank tidak lagi pasif menunggu pengajuan kredit. Sebaliknya, bank harus aktif mendesain ekosistem bisnis yang menguntungkan terlebih dahulu, baru kemudian merekrut UMKM untuk masuk ke dalamnya. Dengan intervensi berupa pelatihan dan akses pasar, mitigasi risiko terjadi secara organik. Bank tidak lagi sekadar "menyeleksi" UMKM yang sudah sukses, melainkan "memfasilitasi" UMKM untuk sukses.

Pendekatan ini mengubah sistem seleksi, yakni membangun sebuah bisnis feasible dahulu baru merekrut UMKM. Dengan pendekatan ini, maka akan makin banyak UMKM yang terekrut atau menjadi nasabah bank. Hal ini karena persyaratannya bukan pada kelayakan usaha atau success history nasabah, namun pada kesungguhan dan kemauan nasabah.

Melampaui Narasi Bunga/Margin Murah

Ada anggapan kuat bahwa bank UMKM harus menawarkan bunga (konvensional) atau margin (syariah) rendah karena nasabahnya berpendapatan kecil. Namun, masalah fundamental UMKM sebenarnya bukanlah tingginya biaya dana, melainkan rendahnya produktivitas dan terbatasnya akses pasar.

Alih-alih terjebak dalam "candu" subsidi bunga/margin yang sering kali tidak mendidik, bank harus fokus pada pemberdayaan UMKM yang mampu mendisrupsi rantai nilai (value chain). Sebagai ilustrasi, pengrajin gula aren yang terbiasa menjual ke tengkulak dengan margin tipis, dapat difasilitasi oleh bank untuk menembus pasar ekspor atau ritel modern.

Ketika pendapatan UMKM melompat karena efisiensi dan akses pasar, besaran bunga atau margin tidak lagi menjadi beban, melainkan biaya investasi yang rasional. Dalam ekosistem ini, UMKM dan bank tumbuh bersama karena nilai (value) yang diciptakan jauh lebih besar dari sekadar selisih bunga.

Mitigasi Risiko Tanpa Agunan

Syarat jaminan (collateral) adalah tembok tebal yang memisahkan UMKM dari perbankan. Kita harus berani mendorong bank UMKM menyalurkan pembiayaan tanpa agunan fisik. Namun, ketiadaan jaminan hanya mungkin dilakukan jika ada mekanisme pengawasan yang ketat dan bersifat real-time.

Melalui model ekosistem kelompok, bank dapat menempatkan staf khusus untuk mengawasi tata kelola keuangan, proses pengadaan, hingga penerimaan pembayaran dari pembeli secara profesional. Ketika proses bisnis terpantau transparan dan dikendalikan langsung, potensi kecurangan (fraud) dan risiko moral (moral hazard) dapat ditekan habis. Dalam kondisi ini, sertifikat tanah atau BPKB menjadi tidak lagi relevan sebagai penjamin risiko.

Filosofi Kemitraan

Bank khusus UMKM harus memposisikan diri sebagai mitra tumbuh (growth partner), bukan sekadar kreditur pasif. Sebagai mitra, orientasi bank adalah kesuksesan usaha nasabah. Dari usaha yang sukses itulah, arus kas untuk angsuran akan mengalir secara berkelanjutan.

Dalam semangat kemitraan ini, pola bagi hasil menjadi instrumen yang paling adil. Indikator kinerja utama (KPI) bagi bank UMKM bukan lagi sekadar tingkat keuntungan bank, melainkan seberapa besar peningkatan kelas UMKM yang dibina. Secara esensi, inilah praktik perbankan syariah yang konsisten—mengutamakan keadilan dan pemberdayaan—tanpa harus terjebak pada simbol semata.

Model ini sejatinya bukan sekadar wacana. Pendekatan berbasis ekosistem dan disrupsi rantai nilai telah dipraktikkan di berbagai negara melalui fasilitasi Islamic Development Bank (IsDB) dalam skema Value Chain Project Group Financing (VCPGF). Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), sering menyebut pola ini sebagai Beyond Murabahah, mengurangi dominasi akad murabahah (jual beli) ke akad-akad bagi hasil dan salam yang selama ini jarang digunakan di keuangan syariah.

Menghadirkan bank khusus UMKM adalah upaya menjemput takdir ekonomi kita. Kita membutuhkan lembaga keuangan yang mampu merangkul jutaan pelaku usaha dengan syarat sederhana—disiplin dan kerja keras—namun dikelola dengan standar profesionalisme global. Sudah saatnya bank hadir untuk memberdayakan, bukan sekadar "jualan uang".

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|