REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Lembaga Riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) menerangkan bahwa situasi ekonomi saat ini terjadi kenaikan harga pangan, biaya hidup, dan tekanan terhadap pendapatan riil rumah tangga, sehingga membuat masyarakat lebih selektif dalam mengalokasikan pengeluaran termasuk dalam memilih hewan kurban. Meski ibadah kurban tetap memiliki ketahanan sosial yang kuat, tetapi pola partisipasinya mulai berubah mengikuti kemampuan ekonomi masyarakat.
Peneliti IDEAS, Tira Mutiara menyampaikan bahwa potensi ekonomi kurban nasional pada 2026 diproyeksikan mencapai Rp 26,89 triliun dengan total pekurban sekitar 1,90 juta rumah tangga. Dari jumlah tersebut, total hewan kurban diperkirakan mencapai 1,59 juta ekor dengan potensi distribusi daging sekitar 99,29 ribu ton.
Estimasi tersebut dihitung menggunakan pendekatan jumlah Muslim dengan tingkat pengeluaran di atas lima kali garis kemiskinan kabupaten/ kota sebagai proksi kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi untuk berkurban. Perhitungan juga mempertimbangkan preferensi jenis hewan dan bobot kurban, mulai dari sapi utuh 750 kilogram, 500 kilogram, 250 kilogram, skema patungan 1/7 sapi, hingga kambing dan domba dengan kategori bobot 80 kilogram, 60 kilogram, 40 kilogram, dan 20 kilogram.
"Sementara potensi daging dihitung berdasarkan estimasi karkas efektif, yakni 57 persen untuk sapi dan 41 persen untuk kambing/ domba, dengan asumsi 75 persen daging siap distribusi kepada masyarakat," kata Tira kepada Republika, Rabu (13/5/2026)
Ia mengatakan, meski nilainya masih besar, proyeksi 2026 menunjukkan adanya pelemahan dibandingkan 2025 yang mencapai Rp 27,10 triliun. Penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya jumlah rumah tangga pekurban dan menurunnya preferensi masyarakat terhadap hewan kurban berbobot besar.
Berdasarkan simulasi bobot hewan, hampir seluruh kategori mengalami penurunan, terutama pada sapi utuh dan kambing premium berbobot tinggi. Hanya kategori kambing/ domba 40 kilogram dan 20 kilogram yang menunjukkan peningkatan.
"Pola ini memperlihatkan adanya perubahan perilaku konsumsi masyarakat dalam berkurban. Masyarakat masih berupaya mempertahankan ibadah kurban, tetapi cenderung memilih hewan dengan harga yang lebih terjangkau," ujar Tira.

2 hours ago
2

















































