
Anggota DPRD DIY, Muhammad Syafi ’I (berdiri) menyampaikan materinya dalam bedah buku di Pendopo RW 5 Kotabaru, Kemantren Gondokusuman, Kota Jogja, Selasa (22/9).
YOGYAKARTA—Rumah tidak selalu menjadi tempat anggota keluarga saling terhubung. Kesibukan, gawai, hingga derasnya arus informasi membuat keluarga bisa tinggal dalam satu rumah, tetapi kehilangan kedekatan satu sama lain.
Persoalan tersebut menjadi salah satu gagasan yang diangkat dalam buku berjudul HOMEPOWER: Menumbuhkan Keluarga, Memaknai Hidup. Buku karya Giva Tri Putri Guntari dan suaminya, Taat Setyabudi, itu dibedah dalam kegiatan yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY di Pendopo RW 5 Kotabaru, Kemantren Gondokusuman, Kota Jogja, Selasa (22/9/2026).
Giva mengatakan buku tersebut berangkat dari draf yang mulai ditulisnya sejak 2017. Proses penulisannya berjalan cukup panjang karena pembahasannya berkembang seiring dengan proses belajar dan pengalamannya dalam mendampingi keluarga.
Dia menyebut salah satu persoalan yang ingin dibahas adalah kondisi rumah yang ramai, tetapi justru terasa sepi. Menurutnya, anggota keluarga bisa duduk bersama di meja makan, tetapi masing-masing sibuk dengan perangkat digital sehingga tidak benar-benar terhubung.
“Anak yang satu main gim, yang satu nonton YouTube, ayahnya scroll TikTok, ibunya scroll Shopee. Apakah terhubung? Tidak. Apakah hangat rumahnya? Tidak,” kata Giva.
Giva yang merupakan ibu dari lima anak juga mendorong keluarga membangun budaya literasi dari rumah. Dia menceritakan kebiasaannya membawa anak-anak ke perpustakaan serta menjalankan pendidikan secara mandiri bersama suami dan komunitas.
Menurut dia, kebiasaan membaca tidak perlu dibangun dengan memaksa anak. Untuk anak usia lima tahun, misalnya, kemampuan fokusnya masih terbatas sehingga orang tua perlu menyesuaikan kegiatan membaca dengan tahap perkembangan anak.
Dia juga menyoroti pentingnya keterlibatan ayah dalam keluarga. Menurut Giva, ayah sebenarnya memiliki keinginan untuk dekat dengan anak dan keluarga, tetapi tidak selalu mengetahui cara menunjukkan perhatian dan kasih sayang sesuai kebutuhan anak.
Giva menjelaskan istilah Homepower dalam bukunya dimaksudkan untuk menggambarkan rumah sebagai sumber kekuatan sekaligus perlindungan dari dalam.
“Keluarga merupakan lingkungan awal yang perlu dibangun sebelum seseorang berbicara mengenai persoalan yang lebih luas di luar rumah,” kata Giva.
Sementara itu, anggota DPRD DIY, Muhammad Syafi’i, mengatakan perhatian terhadap keluarga sebenarnya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus kebijakan pemerintah. Dalam hal ini, dia merujuk UU No. 52/2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.
Menurut Syafi’i, persoalan keluarga perlu dilihat sebagai bagian dari persoalan sosial yang dihadapi masyarakat. Itulah sebabnya, bedah buku diharapkan menjadi ruang untuk memahami persoalan yang muncul di lingkungan keluarga sekaligus mencari jalan keluarnya.
“Buku ini bisa menjadi bahan refleksi bagi orang tua, anak, maupun keluarga secara lebih luas,” kata dia.
Praktisi keluarga, Wahyu Tusi Wardani, mengatakan keluarga memiliki posisi berbeda dibandingkan dengan karier, pendidikan, maupun pekerjaan. Tusi menambahkan rumah seharusnya tidak hanya dipahami sebagai bangunan, tetapi menjadi tempat ketenteraman, pusat ilmu, dan ruang untuk saling menasihati.
Karena itu, dia mengajak keluarga memastikan rumah menjadi tempat yang dirindukan oleh suami, istri, maupun anak, sekaligus ruang pertama untuk belajar tentang kehidupan.
Pustakawan Madya DPAD DIY, Hadi Pranoto, mengatakan kebiasaan membaca di keluarga masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diperkuat. Menurut dia, persoalan literasi bukan hanya soal ada atau tidaknya keinginan membaca, tetapi juga kebiasaan masyarakat dalam menghadapi bacaan yang panjang.
Hadi menyebut ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yakni minat baca, daya baca, dan kemampuan membaca.
“Daya baca berkaitan dengan kemampuan bertahan membaca teks panjang, sedangkan kemampuan membaca terlihat dari seberapa jauh seseorang dapat memahami dan menceritakan kembali gagasan dalam buku dengan bahasanya sendiri,” kata Hadi. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































