Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan data pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis( 29/1/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sebanyak 15 perusahaan masih mengantre untuk melantai di Bursa Efek Indonesia berdasarkan data hingga 10 April 2026. Antrean ini mencerminkan kebutuhan pendanaan dunia usaha yang tetap tinggi.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, hingga periode yang sama baru satu perusahaan yang mencatatkan saham dengan dana dihimpun sekitar Rp0,30 triliun. “Hingga saat ini terdapat 15 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” kata Nyoman.
Mayoritas perusahaan dalam pipeline berasal dari kelompok aset besar, yakni sebanyak 11 perusahaan. Sementara empat lainnya merupakan perusahaan dengan aset skala menengah.
Dari sisi sektor, pipeline IPO didominasi sektor kesehatan, consumer non-cyclicals, dan infrastruktur. Komposisi ini menunjukkan minat investor masih terkonsentrasi pada sektor dengan permintaan relatif stabil.
Selain IPO, penghimpunan dana melalui efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) juga terus berjalan. BEI mencatat telah diterbitkan 50 emisi dari 33 penerbit dengan total dana mencapai Rp55,20 triliun.
“Hingga saat ini terdapat 40 emisi dari 28 penerbit yang berada dalam pipeline,” kata Nyoman.
Sektor keuangan menjadi yang paling dominan dalam rencana penerbitan EBUS, diikuti sektor infrastruktur dan energi. Aktivitas ini menunjukkan alternatif pendanaan di luar ekuitas masih dimanfaatkan pelaku usaha.
Sementara itu, rights issue telah dilakukan oleh tiga perusahaan dengan total dana Rp3,75 triliun. BEI juga mencatat masih ada satu perusahaan dalam antrean rights issue.
Pipeline pendanaan ini menjadi indikasi aktivitas ekspansi dunia usaha masih berjalan. Kebutuhan modal diharapkan mendorong pertumbuhan bisnis sekaligus membuka peluang kerja.

9 hours ago
2














































