
Oleh : Muhbib Abdul Wahab, Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
REPUBLIKA.CO.ID, Ramadhan merupakan bulan istimewa yang perlu dimaknai dan disikapi secara positif dengan rasa syukur dan Bahagia. Karena kita mendapatkan kesempatan emas untuk beribadah Ramadhan dengan segala keistimewaannya yang luar biasa dalam rangka meningkat kualitas iman, ilmu, dan amal shalih kita.
Namun, ada sebagian orang yang menyikapi Ramadhan secara negatif. Puasa itu memberatkan, melelahkan, membuat lemas, kurang bertenaga, mudah mengantuk, dan menurunkan produktivitas. Sebagian orang yang tidak sanggup berpuasa, karena sakit parah atau bekerja berat dan banyak menguras tena, sejatinya mendapatkan keringanan (rukhshah) boleh tidak berpuasa.
Secara historis, Ramadhan itu bulan perjuangan dan kemenangan. Perang Badar, Pembebasan kota Mekkah (Fathu Makkah), Perang Tabuk, dan Kemerdekaan Republik Indonesia terjadi di bulan Ramadhan. Selain sarat dengan etos kerja dan perjuangan, Ramadhan merupakan pendidikan mental spiritual untuk pembebasan diri dari hawa nafsu dan godaan setan.
Karena itu, seruan berpuasa bagi orang-orang beriman perlu diresponi dengan penuh cinta. Karena memang Ramadhan itu bulan cinta: cinta Allah kepada hamba-Nya, dan cinta hamba kepada Sang Maha Pengasih dan Penyayang, Allah SWT. Karena sangat mencintai hamba-Nya, Allah SWT menjadikan Ramadhan sebagai bulan penuh cinta kasih, khususnya cinta pengampunan dosa-dosa hamba-Nya.
‘Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah, jika aku mendapati malam kemuliaan (lailatul qadar), doa apa yang harus aku panjatkan kepada Allah SWT?” Rasulullah menjawab: “Berdoalah: Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf. Engkau mencintai pemberian maaf. Karena itu, maafkanlah dan ampunilah dosa-dosaku.” (HR At-Turmudzi)
Cinta Allah kepada hamba-Nya harus direspon positif dengan menunjukkan cinta tulus yang disertai ketaatan. “Katakanlah, jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali Imran [3]: 31) Ketaatan beribadah dengan penuh cinta merupakan kunci utama meraih rahmat dan ampunan-Nya.

6 days ago
13
















































