Penulis:
Hanindhia Adzkiya Muthi dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si, Psikolog
Mahasiswa dan Dosen Fakultas Psikologi Universita Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
REPUBLIKA.CO.ID, Pernahkah Anda mengerjakan banyak tugas tapi tidak ada yang benar-benar selesai? Sedang makan kepikiran deadline? Dahkan saat sedang istirahat masih kepikiran kerjaan. Rasanya semua pekerjaan harus selesai hari ini padahal tidak ada ancaman nyata yang harus membuat menyelesaikan semuanya secepat mungkin dan jadi tergesah-gesa terus.
Ironisnya, menurut Cox (2022) semakin terburu-buru dan memaksakan diri, justru hasil kerja makin tidak optimal, sehingga merasa makin tertinggal. Pernah merasakan hal tersebut? Jika pernah, hal ini berbeda dengan ‘terlalu sibuk’ seperti yang dikenal.
Di era modern yang serba cepat ini, banyak orang merasa bahwa 24 jam sehari tidak pernah benar-benar cukup. Namun perlu kita tanyakan kepada diri sendiri: apakah waktu yang kurang, atau ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang terjadi pada diri kita?
Mengenal Hurry Sickness: Lebih dari Sekadar Kesibukan
Hurry sickness berbeda dengan sibuk, Hurry sickness adalah kondisi psikologis di mana seseorang merasa terus-menerus dikejar oleh waktu, sehingga terburu-buru dalam menjalani hampir setiap aspek kehidupannya. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh kardiolog Meyer Friedman dan Ray Rosenman pada tahun 1950-an, dan hingga kini semakin banyak terjadi di tengah ritme kehidupan modern dan cepat (Sword & Zimbardo, 2013).
Hurry sickness ditandai oleh beberapa gejala yang lebih spesifik, antara lain:
• Melakukan banyak hal secara bersamaan (multitasking), namun tidak ada satu pun yang benar-benar tuntas secara optimal.
• Otak tetap aktif memikirkan kerjaan/tugas/hal-hal melelahkan lainnya bahkan saat tubuh sedang beristirahat.
• Penurunan kemampuan fokus secara bertahap.
• Perasaan cemas dan tidak tenang yang muncul saat tidak sedang "produktif".
Raypole (2021) menjelaskan bahwa kondisi ini dapat mempengaruhi kondisi emosional seorang individu, mulai dari mudah frustrasi, sulit menikmati momen, hingga penurunan kualitas hubungan sosial.
Mengapa Kehidupan Modern Rentan Memicunya?
Era modernitas seperti pada zaman sekarang ini menjadi salah satu factor terbesar yang menyebabkan hurry sickness. Kondisi Ketika suatu peradaban membangun budaya kesibukan ekstrem sebagai symbol atau standar kesuksesan disebut dengan hustle culture (Quinn, 2026). Mungkin Anda juga merasakannya, di era sekarang ini, jika tidak “selalu sibuk” kerap timbul anggapan tidak ambisius atau tidak produktif.
Paparan konten di media sosial yang cenderung menampilkan pencapaian orang lain secara tidak langsung menimbulkan tekanan tidak tertulis untuk terus bergerak cepat, terus menghasilkan agar tidak tertinggal dengan orang lain dan kadang muncul perasaan tidak boleh berhenti. Dampaknya, ada perasaan tidak pernah seutuhnya istirahat dan menilai istirahat sebagai sebuah kemewahan yang harus “ditebus” dengan produktivitas berlipat.
Padahal manusia bukan mesin. Tidak ada satu pun individu yang bisa aktif melakukan berbagai macam kegiatan tanpa henti dengan kapasitas penuh.
Strategi Praktis Mengatasi Hurry Sickness
Kabar baiknya, hurry sickness bukanlah kondisi yang tidak bisa diatasi. Beberapa tips and trick praktis dapat kamu coba untuk mengatasi Hurry Sickness:
1. Latihan Pernapasan: Coba praktikkan teknik box breathing dengan ketentuan tarik napas 4 detik, tahan 4 detik, buang 4 detik. Teknik ini terbukti efektif menenangkan sistem saraf yang teraktivasi akibat stres. Lakukan kapan saja mulai merasakan dorongan panik atau terburu-buru.
2. Prinsip Satu Tugas per Hari: Alih-alih membuat daftar panjang yang mustahil diselesaikan dalam satu hari, cobalah tentukan satu tugas utama yang paling bermakna untuk diselesaikan hari itu. Pendekatan ini mengurangi beban kognitif sekaligus membangun rasa pencapaian yang lebih nyata.
3. Manajemen Prioritas dengan Matriks Eisenhower: Kategorikan tugas ke dalam empat kuadran: (a) penting dan mendesak, (b) penting tapi tidak mendesak, (c) tidak penting tapi mendesak, dan (d) tidak penting dan tidak mendesak. Fokuskan energimu pada kuadran pertama dan kedua.
4. Batasi Konsumsi Media Sosial: Informasi yang berlebihan (information overload) dari media sosial secara tidak langsung menciptakan urgensi palsu dalam pikiran kamu. Menetapkan waktu khusus untuk membuka media sosial, misalnya hanya dua kali sehari dapat membantu mengurangi tekanan ini.
5. Jaga Kebutuhan Dasar Tubuh: Tidur yang cukup, pola makan sehat, dan aktivitas fisik ringan seperti jalan kaki merupakan fondasi utama kesehatan mental dan kognitif. Mengabaikan hal-hal mendasar ini justru menurunkan produktivitas jangka panjang.
6. Latih Rasa Syukur atas Hal-hal Kecil: Penelitian dalam psikologi positif menunjukkan bahwa praktik rasa syukur secara rutin bahkan untuk hal sekecil "hari ini saya sudah mandi dan sarapan" mampu menggeser fokus pikiran dari kecemasan menuju apresiasi.
Kita tidak harus selalu cepat, hidup bukan lomba lari. Pelan-pelan saja, akan tetap sampai ke tujuan, kok. Dan penting untuk diingat, “Speed is not always progress”.

1 hour ago
4















































