Harianjogja.com, JOGJA—Persaingan industri otomotif Indonesia memasuki babak baru. Merek-merek mobil asal Tiongkok yang beberapa tahun lalu hanya mengisi ceruk pasar kini tampil sebagai kekuatan utama. Dalam kurun sekitar 18 bulan, pangsa pasar mobil Tiongkok melonjak dari 5,8% menjadi 17,4% dari total penjualan mobil nasional, menandai perubahan besar dalam peta persaingan otomotif di Indonesia.
Pangsa Pasar Mobil Tiongkok Melonjak Tajam
Data penjualan ritel Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan pertumbuhan pesat merek-merek mobil asal Tiongkok dalam dua tahun terakhir.
Pada 2024, total penjualan gabungan merek Tiongkok mencapai 51.255 unit atau sekitar 5,8% dari total pasar nasional yang mencapai 889.680 unit. Saat itu, Wuling menjadi pemain terbesar dengan penjualan 25.067 unit, disusul BYD sebanyak 13.964 unit dan Chery 8.626 unit.
Selain tiga merek tersebut, sejumlah pemain lain seperti DFSK, Aion, GWM, Neta, BAIC, dan Seres mulai memperluas jejaknya di pasar otomotif nasional.
Meski kontribusinya masih relatif kecil dibanding dominasi merek Jepang, tahun 2024 menjadi fondasi penting bagi ekspansi kendaraan asal Tiongkok di Indonesia.
Tahun 2025 Jadi Titik Balik
Pertumbuhan yang terjadi pada 2025 menunjukkan perubahan yang jauh lebih signifikan. Berdasarkan data retail sales Gaikindo dari 15 merek Tiongkok yang beroperasi di Indonesia, penjualan gabungan mencapai 108.744 unit.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 13% dari total pasar nasional yang membukukan penjualan 833.692 unit sepanjang tahun.
BYD tampil sebagai merek Tiongkok terlaris dengan penjualan 44.342 unit. Posisi berikutnya ditempati Wuling dengan 20.607 unit dan Chery yang mencatatkan 19.485 unit.
Sementara itu, Denza berhasil membukukan 7.324 unit dan Aion mencapai 6.940 unit. Hasil ini menunjukkan bahwa persaingan antarmerek Tiongkok semakin ketat dan tidak lagi bergantung pada satu pemain utama.
Tahun 2026 Dekati Seperlima Pasar Nasional
Tren pertumbuhan tersebut berlanjut pada 2026. Hingga Juli 2026, penjualan retail gabungan merek Tiongkok telah mencapai sekitar 88.942 unit.
Jumlah itu berasal dari total pasar nasional yang tercatat sebanyak 511.514 unit, sehingga pangsa pasar merek Tiongkok telah mencapai sekitar 17,4%.
Artinya, dalam waktu sekitar satu setengah tahun, kontribusi mobil Tiongkok terhadap pasar otomotif nasional meningkat hampir tiga kali lipat.
Pencapaian tersebut semakin menarik karena terjadi ketika pasar otomotif nasional belum sepenuhnya kembali ke level penjualan 2024. Meski demikian, penjualan nasional Januari-Juli 2026 tetap menunjukkan pertumbuhan 12,3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Makin Banyak Merek Meramaikan Pasar
Persaingan juga semakin dinamis karena jumlah pemain terus bertambah. Jika sebelumnya pasar didominasi Wuling, Chery, dan BYD, kini konsumen memiliki lebih banyak pilihan.
Beberapa merek yang mulai aktif memasarkan produk di Indonesia antara lain Denza, Jaecoo, Geely, Xpeng, Jetour, GWM, Neta, Aion, BAIC, hingga Seres.
Hingga akhir 2025, tercatat sedikitnya 16 merek otomotif asal Tiongkok telah hadir secara resmi di Indonesia.
Kehadiran banyak pemain baru ini membuat kompetisi semakin ketat, baik pada segmen kendaraan konvensional maupun kendaraan listrik.
Mengapa Mobil Tiongkok Makin Diminati?
Ada sejumlah faktor yang mendorong peningkatan penerimaan konsumen terhadap mobil asal Tiongkok.
1. Persepsi masyarakat terhadap kualitas produk Tiongkok mulai berubah. Jika dahulu sering dipandang sebelah mata, kini banyak produk yang dinilai mampu bersaing dari sisi kualitas, fitur, dan teknologi.
2. Produsen Tiongkok agresif menghadirkan teknologi modern, fitur keselamatan lengkap, serta desain yang sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia.
3. investasi besar yang dilakukan sejumlah merek dalam pembangunan fasilitas produksi lokal turut meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memperkuat jaringan distribusi dan layanan purnajual.
Selain itu, dominasi kendaraan listrik yang dibawa sejumlah merek Tiongkok membuat mereka berada di posisi strategis ketika tren elektrifikasi kendaraan mulai berkembang di Indonesia.
Peta Persaingan Berubah
Lonjakan pangsa pasar ini menunjukkan bahwa merek Tiongkok tidak lagi sekadar menjadi alternatif di pasar otomotif nasional. Mereka kini telah menjadi penantang serius bagi dominasi pemain lama yang selama puluhan tahun menguasai pasar Indonesia.
Jika tren pertumbuhan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun mendatang persaingan industri otomotif nasional akan semakin terbuka dan menghadirkan perubahan besar dalam peta kekuatan merek kendaraan di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































