Chilling Effect: Said bin al-Musayyib dan Terulangnya Ancaman kepada Aktivis

2 hours ago 1

Ilustrasi demonstrasi.

Oleh : M Alvin Nur Choironi, Dosen Fak Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Ruang publik di Indonesia kian dibayangi tren yang mengkhawatirkan terkait penyempitan kebebasan bersuara.

Para aktivis, akademisi, hingga kreator konten yang melontarkan kritik terhadap kebijakan publik sering kali berakhir menjadi sasaran teror.

Nama-nama seperti DJ Donny, Sheryl Annavita, dan aktivis Greenpeace Iqbal Damanik dilaporkan menjadi sasaran intimidasi oleh orang tak dikenal (OTK).

Bentuk ancamannya pun mulai seragam, mulai dari vandalisme di area pribadi hingga pengiriman bangkai binatang sebagai pesan ancaman yang nyata.

Tak berhenti di situ, aktivis Chiki Fawzi juga dilaporkan mengalami teror digital yang agresif, seperti kiriman foto kepala babi melalui media sosial hingga upaya pembunuhan karakter yang masif.

Serangan-serangan ini diduga kuat berkaitan erat dengan kritik yang mereka lontarkan terhadap isu-isu sosial sensitif, termasuk penanganan bencana alam dan kebijakan lingkungan.

Pola intimidasi ini tidak lagi terbatas pada jalur hukum yang transparan, melainkan melalui serangan-serangan yang sulit dilacak pelakunya secara langsung.

Keadaan ini menciptakan apa yang dikenal sebagai chilling effect, sebuah kondisi psikologis ketika masyarakat mulai menyensor diri sendiri karena rasa takut akan keamanan pribadi dan keluarga.

Namun, jika kita menilik sejarah peradaban Islam, intimidasi terhadap individu yang kritis bukanlah fenomena baru. Hal tersebut telah terjadi sejak masa awal sejarah Islam, ketika para ulama besar harus berhadapan dengan kekuasaan yang absolut demi menjaga integritas ilmu dan keadilan bagi masyarakat.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|