REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Prof M Din Syamsuddin selaku Ketua Umum Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju (DN-PIM) menghadiri Serasehan 01 Seri Asta Cita yang digelar di Universitas Paramadina, Jakarta Timur, pada Selasa (27/1/2026). Kehadirannya sekaligus membuka forum kebangsaan bertema "Ideologi Pancasila—antara Cita dan Nyata" itu.
Serasehan ini merupakan hasil kerja sama DN-PIM dengan Universitas Paramadina dan berlangsung di Aula TP Rachmat Kampus Paramadina, Cipayung, Jakarta. Forum tersebut menjadi ruang refleksi bersama untuk membahas arah, gagasan, dan tantangan strategis pembangunan Indonesia ke depan.
Sejumlah tokoh lintas agama dan cendekiawan nasional hadir sebagai narasumber, di antaranya Pdt. Dr. Jackvelyn Manuputty, Dr. Fachry Ali, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, serta Prof. Dr. Phillip K. Widjaja. Acara ini ditutup oleh Rektor Universitas Paramadina yang diwakili Pipip A. Rifai Hasan Ph.D.
Dalam diskusi, para pembicara menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar teks konstitusional yang selesai dibacakan pada momen historis tertentu. Pancasila dipahami sebagai janji kebangsaan yang menuntut untuk terus dihidupi dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara.
Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan sosial dinilai tidak cukup dihafalkan, tetapi harus diperjuangkan dalam kebijakan dan tindakan nyata. Pancasila disebut sebagai paradigma moral-etis yang membimbing arah demokrasi, hukum, dan pembangunan nasional.
Serasehan ini juga menyoroti berbagai tantangan kebangsaan, seperti melemahnya solidaritas sosial dan menurunnya kepercayaan publik. Rapuhnya kelas menengah dinilai menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan demokrasi dan stabilitas sosial.
Agenda pembangunan nasional, termasuk Asta Cita, dinilai perlu ditempatkan secara tegas dalam kerangka ideologi Pancasila. Pendekatan tersebut diharapkan menjaga arah pembangunan agar tidak semata teknokratis, tetapi tetap berakar pada kehendak historis bangsa.
Diskusi turut mengkritisi praktik demokrasi Indonesia yang dinilai belum sepenuhnya matang. Partai politik kerap berwatak semi-kerajaan, sementara identitas kewargaan belum tumbuh kuat sehingga masyarakat kerap tampil sebagai kerumunan.
Meski demikian, para peserta sepakat bahwa Pancasila hingga kini tetap menjadi pemersatu bangsa Indonesia. Jarak antara cita dan realitas dipandang bukan alasan untuk putus asa, melainkan ruang perjuangan sejarah yang harus terus diisi bersama.

2 hours ago
3
















































