Harianjogja.com, JAKARTA—Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan menolak keras gagasan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk mendorong aksi protes massal rakyat Iran terhadap pemerintah mereka. Sikap tegas ini muncul setelah Netanyahu menghubungi Trump pascaserangan Israel yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, dengan tujuan memanfaatkan situasi demi mengacaukan stabilitas internal negara tersebut.
Trump menilai bahwa seruan agar warga sipil turun ke jalan merupakan langkah yang terlalu berisiko dan berbahaya bagi keselamatan rakyat Iran sendiri. "Mengapa kita harus meminta orang-orang turun ke jalan ketika mereka hanya akan dibantai," tegas Trump sebagaimana dikutip oleh seorang pejabat AS dalam laporan yang dirilis oleh Axios pada Rabu (25/3/2026).
Penolakan ini mengungkapkan adanya celah perbedaan strategi antara Washington dan Tel Aviv meskipun keduanya baru saja melancarkan operasi militer gabungan. Pada 28 Februari 2026, pasukan AS dan Israel diketahui melancarkan serangan udara ke berbagai target strategis di Iran, termasuk Teheran, yang mengakibatkan gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta jatuhnya korban sipil.
Sebagai bentuk pertahanan diri dan aksi balasan, pihak Iran merespons dengan menggempur wilayah kedaulatan Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat yang tersebar di kawasan Timur Tengah. Ketegangan ini awalnya dipicu oleh klaim AS dan Israel yang menyebut serangan pendahuluan tersebut sebagai langkah preventif guna melumpuhkan program nuklir Iran yang dianggap mengancam keamanan global.
Namun, seiring berjalannya konflik, niat asli kedua negara tersebut mulai bergeser ke arah keinginan untuk melihat adanya perubahan kekuasaan atau transisi rezim di Teheran. Meski memiliki musuh yang sama, koordinasi di level pimpinan tertinggi tampaknya tidak berjalan mulus karena perbedaan sudut pandang mengenai metode intervensi politik.
Kondisi ini diperkuat oleh pernyataan Direktur Intelijen Nasional, Tulsi Gabbard, dalam sidang di DPR AS pekan lalu yang memaparkan adanya ketidaksinkronan visi antara kedua negara. Menurut Gabbard, tujuan akhir dari operasi militer terhadap Iran antara Amerika Serikat dan Israel sejatinya tidak sejalan, di mana AS lebih berha
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































