Drone Iran Hantam Fasilitas Energi Qatar-Saudi, Harga Gas Eropa Naik

3 hours ago 3

Drone Iran Hantam Fasilitas Energi Qatar-Saudi, Harga Gas Eropa Naik Kilang minyak lepas pantai. - Foto dibuat oleh AI - StockCake

Harianjogja.com, JAKARTA—Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah fasilitas energi di Qatar dan Arab Saudi menjadi sasaran serangan drone. Dampaknya, harga gas dan minyak dunia langsung melonjak tajam di pasar global.

Berdasarkan laporan Aljazeera, Selasa (3/3/2026) perusahaan energi milik negara Qatar, QatarEnergy, mengumumkan penghentian sementara produksi gas alam cair (LNG) menyusul serangan terhadap fasilitas operasinya di Kota Industri Ras Laffan dan Kota Industri Mesaieed.

“Karena serangan militer terhadap fasilitas operasi QatarEnergy di Kota Industri Ras Laffan dan Kota Industri Mesaieed di Negara Qatar, QatarEnergy telah menghentikan produksi gas alam cair (LNG) dan produk terkait,” demikian pernyataan resmi perusahaan tersebut, Senin (2/3/2026)

QatarEnergy merupakan produsen LNG terbesar di dunia, sehingga gangguan produksi langsung memicu gejolak harga energi internasional.

Harga Gas dan Minyak Melejit

Tak lama setelah pengumuman itu, harga acuan gas grosir Belanda dan Inggris melonjak hampir 50%. Kontrak gas alam TTF Belanda, yang menjadi acuan harga LNG di Eropa, naik lebih dari 25% pada pagi hari dan pada pukul 11.31 GMT tercatat naik 7,44 euro menjadi 39,40 euro per megawatt hour (MWh).

Di Asia, harga LNG juga terdongkrak signifikan. S&P Global Energy Japan Korea Marker (JKM), yang menjadi acuan LNG Asia, tercatat di level US$15,068 per million British thermal units (MMBtu).

Harga minyak dunia turut meroket. Secara intraday, harga minyak melonjak hingga 13% ke atas US$82 per barel—level tertinggi sejak Januari 2025. Bahkan sebelumnya harga sudah naik sekitar 25% sebelum diperpanjang akibat penghentian produksi LNG Qatar.

Drone Targetkan Fasilitas Energi

Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan dua drone diluncurkan dari Iran. Satu drone menargetkan tangki air pembangkit listrik di Mesaieed, sementara satu lainnya menyasar fasilitas energi di Ras Laffan milik QatarEnergy. Tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden tersebut.

Pihak berwenang Qatar menyebut kerusakan dan kerugian masih dalam tahap penilaian dan pernyataan resmi lanjutan akan disampaikan kemudian.

Di Arab Saudi, dua drone juga dilaporkan mencoba menyerang kilang minyak Ras Tanura pada Senin pagi. Kementerian Pertahanan Saudi menyatakan api kecil berhasil dipadamkan setelah drone dicegat.

Kilang Ras Tanura—salah satu fasilitas pemrosesan minyak terbesar di dunia yang berlokasi dekat Dammam—memiliki kapasitas hingga 550.000 barel per hari. Fasilitas ini menjadi tulang punggung sektor energi Arab Saudi.

Dalam pernyataan yang dimuat Saudi Press Agency, Kementerian Energi Saudi menyebut beberapa operasi dihentikan sementara sebagai langkah pencegahan. Meski demikian, pemerintah memastikan tidak ada dampak terhadap pasokan produk minyak bumi ke pasar domestik.

Selat Hormuz dan Risiko Global

Ketegangan ini terjadi di tengah penumpukan kapal tanker di sekitar Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia serta sebagian besar ekspor gas Qatar.

Gangguan maritim dan kekhawatiran konflik berkepanjangan memicu volatilitas tajam di pasar energi global, yang berpotensi menekan ekonomi dunia.

Iran sebelumnya melancarkan serangan balasan yang menargetkan Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, menyusul serangan udara besar-besaran oleh AS dan Israel ke wilayah Iran.

Sejumlah negara, termasuk AS, Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk serangan Iran dan menegaskan hak masing-masing negara untuk membela diri.

Rob Geist Pinfold, dosen studi pertahanan di King's College London, menilai Iran memahami dampak strategis serangan terhadap negara-negara Teluk.

“Iran tahu persis apa yang dilakukannya. Negara-negara Teluk cenderung tidak ingin terlibat langsung dalam perang ini, sehingga Iran mungkin berharap ada tekanan untuk gencatan senjata. Namun sejauh ini belum terlihat tanda-tanda itu,” ujarnya.

Menurutnya, negara-negara Teluk kini berupaya menunjukkan persatuan dan ketegasan dalam merespons eskalasi tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|