Dua Desainer PDIP DIY Lolos Nasional Fatmawati Trophy 2026

3 hours ago 3

Dua Desainer PDIP DIY Lolos Nasional Fatmawati Trophy 2026

Dua desainer kebaya dari DIY lolos tingkat regional Fatmawati Trophy 2026 dan akan bersaing di tingkat nasional di Bali pada Oktober 2026. /Istimewa

Harianjogja.com, JOGJA— Dua desainer busana tradisional kebaya yang mewakili DPD PDI Perjuangan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil meraih posisi sebagai pemenang tingkat regional Jawa Tengah-DIY dalam Fatmawati Trophy 2026. Keduanya berhak melanjutkan kompetisi ke tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung di Bali pada Oktober 2026.

Seleksi Regional 7 tersebut berlangsung di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang, Jumat (14/8/2026) malam. Ajang itu mempertemukan para desainer lokal dari wilayah Jawa Tengah dan DIY.

Tiga pemenang pada tingkat regional akan melaju ke kompetisi nasional. Dari tiga karya yang dibawa DPD PDI Perjuangan DIY, dua di antaranya berhasil lolos.

Dua Karya Kebaya dari Sleman dan Kota Jogja

Dua karya yang berhasil membawa nama DIY ke tingkat nasional memiliki konsep berbeda. Karya pertama berjudul "Kebaya Fatmawati Puspa Merapi: Keanggunan yang Tumbuh dari Ketahanan", buah karya Tiara Yusita Wijayanti dari DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sleman.

Karya kedua berjudul "Sumbu Kartika", karya Sarah Azzahra dari DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta.

Sekretaris DPD PDI Perjuangan DIY, Yan Kurnia Kustanto, mengatakan kedua karya tersebut memiliki gagasan masing-masing. Meski demikian, keduanya sama-sama menjadikan sosok Ibu Fatmawati Soekarno, budaya lokal, serta nilai perjuangan perempuan sebagai sumber inspirasi.

"Keberhasilan dua karya dari DIY lolos ke Regional 7 tentu menjadi kebanggaan bersama. Ini menunjukkan bahwa ketika proses kreatif diberikan ruang, diarahkan, dan difasilitasi dengan baik, kader maupun peserta dari daerah mampu menghasilkan karya yang kompetitif," ujar Yan Kurnia Kustanto.

Menurut Yan Kurnia, DPD PDI Perjuangan DIY sejak awal tidak memandang Fatmawati Trophy hanya sebagai kompetisi kebaya. Ajang tersebut juga ditempatkan sebagai ruang untuk menggali kreativitas sekaligus mengenalkan kembali nilai perjuangan dan keteladanan Ibu Fatmawati kepada generasi muda.

"Yang kami dorong adalah bagaimana peserta tidak hanya membuat kebaya yang indah secara visual, tetapi memiliki gagasan, memiliki cerita, dan memiliki keterhubungan dengan identitas budaya Yogyakarta. Pada proses itu pendampingan penting," katanya.

DPD Dampingi Peserta Sejak Persiapan

Keberhasilan dua karya tersebut tidak terlepas dari proses pendampingan dan fasilitasi DPD PDI Perjuangan DIY. DPD menjadi penanggung jawab penuh dan mendampingi peserta sejak tahap persiapan hingga menghadapi seleksi tingkat regional.

Secara teknis, proses pendampingan dan fasilitasi dilakukan Wakil Ketua Bidang Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital, Reda Refitra Safitrianto. Pelaksanaannya dilakukan secara koordinatif dengan lima DPC PDI Perjuangan di kabupaten/kota.

Reda Refitra menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang memberikan dukungan terhadap proses kreatif peserta, baik secara moril maupun materiil.

"Kita DPD maju membawa tiga karya desainer dan peragawati, dari DPC PDI Perjuangan Sleman, Kota Yogyakarta, dan Bantul. Lolos dua sudah luar biasa, terima kasih dukungan semua pihak," tegas Reda Refitra.

Menurutnya, keberhasilan dua dari tiga karya yang dikirim ke kompetisi regional menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa kekayaan budaya lokal dapat dikembangkan menjadi sumber kreativitas yang mampu bersaing.

"Proses yang dilakukan bukan hanya memastikan peserta mengikuti kompetisi, tetapi juga memberikan ruang agar masing-masing DPC mampu mengembangkan gagasan sesuai karakter wilayahnya," jelas Reda Refitra.

Angkat Narasi Merapi dan Sumbu Kartika

Reda menjelaskan perbedaan karakter kedua karya yang berhasil lolos. Karya dari Sleman mengangkat kekuatan narasi Merapi dan ketahanan, sedangkan karya dari Kota Yogyakarta membawa narasi Sumbu Kartika dan perjalanan perempuan.

Menurut dia, dua pendekatan tersebut memperlihatkan beragam perspektif yang dapat dikembangkan dari satu wilayah kebudayaan yang sama.

"Dari awal kami ingin setiap peserta mempunyai identitas karyanya sendiri. Sleman dengan Puspa Merapi, Kota Yogyakarta dengan Sumbu Kartika. Kami fasilitasi agar gagasan tersebut dapat diterjemahkan menjadi karya yang kuat dan layak bersaing di tingkat regional," ujar Reda Refitra.

Capaian tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi DPC-DPC lainnya untuk terus mengembangkan kreativitas, terutama dalam mengangkat kebaya, budaya lokal, dan narasi perempuan Indonesia.

Tahap berikutnya adalah persiapan menuju kompetisi nasional di Bali pada Oktober 2026. DPD PDI Perjuangan DIY menyatakan akan memberikan dukungan penuh agar dua karya tersebut dapat tampil maksimal pada tingkat nasional.

"Target berikutnya tentu memberikan dukungan penuh agar dua karya dari DIY dapat tampil maksimal di tingkat nasional. Tetapi yang tidak kalah penting, proses ini harus menjadi bagian dari upaya kita menjaga kebaya dan kebudayaan tetap hidup melalui kreativitas generasi muda," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|