Jumali Sabtu, 15 Agustus 2026 21:37 WIB

Presiden AS Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino./Instagram-gianni_infantino\r\n
Harianjogja.com, JOGJA— Posisi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA masih bertahan meski gelombang kritik dan desakan mundur terus bermunculan dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan, peluang Infantino untuk lengser dari jabatannya dilaporkan menurun signifikan setelah memperoleh dukungan dari sejumlah pihak berpengaruh, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Infantino sebelumnya menghadapi tekanan besar setelah rencana penjualan saham terkait penyelenggaraan Piala Dunia FIFA memicu kontroversi di kalangan konfederasi dan asosiasi anggota FIFA.
Rencana tersebut sempat mendapat perhatian karena menjanjikan potensi pemasukan besar. Namun, penolakan keras dari UEFA membuat gagasan itu kehilangan dukungan. Sejumlah konfederasi lain, termasuk sebagian anggota Concacaf dan AFC, kemudian mengikuti langkah UEFA.
Pada akhirnya, Infantino membatalkan rencana tersebut. Meski demikian, penolakan terhadap kepemimpinannya tidak serta-merta mereda.
Peluang Lengser Turun Drastis
Laporan yang dikutip dari Yahoo berdasarkan data Kalshi menunjukkan peluang Infantino kehilangan jabatannya sempat mencapai 50 persen pada 10 Agustus 2026.
Namun situasi berubah setelah muncul dukungan dari beberapa pihak penting dalam sepak bola internasional. Saat ini, peluang Infantino lengser disebut turun menjadi 21 persen.
Penurunan tersebut terjadi setelah dukungan datang dari Donald Trump, Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA), dan Federasi Sepak Bola Meksiko.
Trump bahkan menilai FIFA berisiko melakukan kesalahan besar apabila mengganti Infantino dalam waktu dekat.
Menurut Trump, Infantino telah memainkan peran penting dalam kesuksesan penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Dukungan dan Penolakan Terbelah
Meski mendapatkan dukungan dari sejumlah pihak, posisi Infantino masih jauh dari aman. Peta politik sepak bola dunia saat ini terlihat terbelah.
Di kawasan Amerika Utara, misalnya, dukungan tidak sepenuhnya solid. Federasi Sepak Bola Amerika Serikat disebut berada dalam barisan yang mendukung sikap Concacaf untuk mengkritisi kepemimpinan Infantino.
Namun, tidak semua anggota Concacaf memiliki pandangan yang sama. Meksiko justru tetap berada di kubu pendukung Presiden FIFA tersebut.
Sementara itu, tiga konfederasi besar lainnya yakni CONMEBOL (Amerika Selatan), CAF (Afrika), dan OFC (Oseania) juga disebut masih memberikan dukungan kepada Infantino.
UEFA Jadi Ancaman Terbesar
Tantangan paling serius bagi Infantino saat ini datang dari UEFA. Organisasi sepak bola Eropa tersebut menjadi pihak yang paling vokal menentang sejumlah kebijakan FIFA dalam beberapa bulan terakhir.
Bahkan, muncul wacana dari sebagian kalangan di UEFA untuk melakukan boikot terhadap sejumlah turnamen FIFA apabila Infantino tetap bertahan di kursi presiden.
Salah satu ancaman yang mencuat adalah kemungkinan tidak berpartisipasinya sejumlah negara Eropa dalam ajang FIFA, termasuk Piala Dunia Wanita 2027, jika konflik kepemimpinan ini tidak menemukan titik temu.
Pemilihan FIFA 2027 Jadi Penentu
Meski masa jabatannya masih berjalan, sorotan kini mulai tertuju pada pemilihan Presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027.
Sejumlah pihak berupaya mendorong agar Infantino tidak kembali mencalonkan diri. Namun, dengan dukungan yang masih cukup kuat dari beberapa konfederasi utama, peluangnya untuk tetap bertarung dalam pemilihan mendatang masih terbuka.
Perkembangan dinamika politik di tubuh FIFA dalam beberapa bulan ke depan diperkirakan akan menjadi faktor penentu apakah Infantino mampu mempertahankan kekuasaannya atau justru menghadapi perlawanan yang lebih besar menjelang kongres pemilihan 2027.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































