Eks Petinggi Militer Israel: Iran Siap Balas Dendam, Trump Kemungkinan Berkhianat Tinggalkan Kami

10 hours ago 3

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara dengan Presiden Donald Trump sebelum keberangkatan presiden dari Bandara Internasional Ben Gurion Israel pada 23 Mei 2017.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Mayor Jenderal (Purnawirawan) Yitzhak Breck, dalam sebuah artikel di surat kabar Ma'ariv, memperingatkan tentang apa yang dia sebut sebagai keinginan Iran untuk membalas dendam terhadap Israel dan Amerika Serikat setelah perang terakhir.

Dia mencatat, jika kebencian Iran terhadap Israel sudah memuncak sebelum Perang Dua Belas Hari, maka keinginan untuk membalas dendam itu semakin menguat di hati mereka setelahnya.

Kini, motivasi mereka adalah berlomba-lomba memproduksi bom nuklir tanpa ragu-ragu dan hambatan yang pernah menghambat mereka di masa lalu.

Breck menyoroti kegagalan perang yang dilancarkan oleh Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terhadap Iran.

Selain itu, perang tersebut tidak berhasil menggulingkan rezim, melainkan justru berkontribusi pada naiknya "Garda Revolusi" ke tampuk kekuasaan langsung, yang pada akhirnya melahirkan kepemimpinan yang lebih ekstrem.

Dia mengatakan, meskipun ada kehancuran besar yang ditimbulkan oleh Angkatan Udara AS dan Israel selama sebulan, orang-orang Iran tidak menyerah, melainkan melakukan tekanan yang salah diperhitungkan oleh Trump, yaitu blokade Selat Hormuz yang menyebabkan kerugian ekonomi global yang parah.

Di bawah tekanan internal yang sangat kuat di Amerika Serikat, Trump menyerah dan menyetujui gencatan senjata selama dua pekan sebagai imbalan atas pembukaan selat tersebut.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|