Enam Kasus Positif Campak Ditemukan, Dinkes Yogyakarta Ingatkan Imunisasi Kunci Utama Pencegahan

2 hours ago 1

"Kami sudah di atas 95 persen ya rata-rata. Cuma itu tadi, di bolongnya itu, artinya kan nggak 100 persen ya, kalau misalkan dia bepergian ke luar daerah, itu yang resikonya. Sekarang mobilitas itu sangat tinggi apalagi ini mungkin jelang lebaran ya. Jelang lebaran habis itu nanti mungkin Mei, Juni kan liburan anak sekolah ya. Jadi mungkin bayi-bayi atau anak-anak itu nanti juga liburan ke mana, ke daerah-daerah yang cakupan imunisasinya masih di bawah itu resiko untuk tertular," ungkap Dokter Lana.

Selain faktor mobilitas, tantangan lain dalam program imunisasi adalah masih adanya orang tua yang menolak vaksinasi anaknya. Penolakan tersebut biasanya dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari informasi yang salah hingga kepercayaan tertentu. 

Padahal, imunisasi merupakan bagian dari hak anak yang dilindungi oleh undang-undang. Ia menegaskan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab untuk memenuhi hak tersebut.

"Ini hak anak. Bisa dibilang bahwa jika ada orang tua yang tidak bersedia dan menghalangi anaknya diimunisasi, itu kalau ditelusuri mungkin bisa dianggap mengabaikan hak anak. Nah itu dijamin dalam Undang-Undang Perlindungan Anak sebetulnya ya, hak untuk mendapatkan imunisasi," kata dia.

Pemerintah, lanjutnya, juga memastikan bahwa layanan imunisasi dasar dapat diakses secara gratis oleh masyarakat. Vaksin yang disediakan pemerintah dapat diperoleh di berbagai fasilitas kesehatan, terutama puskesmas.

Lebih jauh, karena penyakit campak ini juga mungkin terjadi pada orang dewasa, Dokter Lana mengingatkan perlindungan terhadap penyakit menular tidak hanya bergantung pada imunisasi individu, tetapi juga pada kekebalan kelompok atau herd immunity. Dengan cakupan imunisasi yang tinggi, menjaga asupan makan yang baik, anak-anak atau bahkan orang dewasa yang tidak bisa menerima vaksin karena alasan medis pun tetap dapat terlindungi. Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

Dinkes Kota Yogyakarta juga terus memantau perkembangan penyakit menular melalui sistem kewaspadaan dini. Lana menyampaikan, pihaknya memiliki Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), yang mewajibkan fasilitas kesehatan melaporkan kasus penyakit tertentu setiap hari.

Campak termasuk dalam daftar 24 penyakit yang dipantau secara ketat karena berpotensi menimbulkan wabah.

"Semua fasilitas kesehatan melaporkan kasus tersebut setiap hari. Kalau misalkan ternyata ada alert, ada peringatan yang masuk, ini akan segera kita tindak lanjut," kata Lana.

Selain imunisasi, faktor lain yang juga berperan dalam pencegahan penyakit adalah gizi yang baik serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Anak dengan asupan gizi seimbang, menurutnya memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat terhadap infeksi.

Lana juga mengingatkan pentingnya pemberian ASI eksklusif bagi bayi serta makanan bergizi setelah masa ASI.

"Gizi seimbang sangat penting untuk memperkuat daya tahan tubuh anak," ujarnya.

Selain itu, masyarakat juga diimbau menerapkan kebiasaan hidup sehat seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, serta menggunakan masker ketika sakit.

"Kita semua, masing-masing, kita yang tahu kapan kita harus pakai masker. Saat mungkin di area yang kita merasa kok banyak orang, ini kok rasanya saya merasa nggak aman, pakailah masker," ucap dia.

Dinkes Kota Yogyakarta juga meminta agar masyarakat tidak perlu panik menghadapi kasus campak yang ada saat ini. Namun kewaspadaan tetap diperlukan agar penyakit tersebut tidak menyebar lebih luas. Ia juga mengajak masyarakat untuk saling mengingatkan tentang pentingnya imunisasi.

Orang tua, keluarga, hingga tokoh masyarakat diharapkan berperan aktif memastikan anak-anak mendapatkan vaksin sesuai jadwal.

"Jangan panik tapi kita tetap waspada. Kemudian yang kedua, lihat lagi status imunisasi khususnya yang campak ini ya, tapi secara umum untuk seluruh imunisasi. Karena kita kan ada IDL (Imunisasi Dasar Lengkap) dan IBL (Imunisasi Booster Lengkap)," katanya.

Menurut Lana, langkah sederhana tersebut dapat menjadi kunci untuk mencegah munculnya kasus campak yang lebih besar di masa depan. Ia berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya imunisasi terus meningkat sehingga penularan campak dapat dicegah.

"Kemudian yang ketiga, berikan gizi lengkap seimbang. Buat bayi, buat balita, dan buat anak dan tentunya juga buat dewasa kita. Jika memang ada permasalahan makan ya, kadang-kadang anak-anak makan ya tetap harus dikonsultasikan. Jadi para ibu-ibu juga harus telaten. Karena ada masa-masanya anak itu memang suka sulit makan," ungkapnya.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|