Es Gabus, Jajanan Jadul yang Bikin Citra Polisi dan TNI Amburadul

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Citra TNI dan polisi di masyarakat kian amburadul setelah kasus penganiayaan penjual es gabus, Sudrajat, yang dituduh menjual makanan dari bahan spons atau busa. Video seorang anggota TNI dan seorang anggota polisi yang mengintimidasi Sudrajat viral di media sosial sehingga melahirkan berbagai reaksi negatif dari masyarakat kepada aparat.

Awalnya dua aparat itu mengklaim es gabus yang dijual Sudrajat tidak layak dikonsumsi. Namun tuduhan itu belakangan terbantahkan setelah polisi melakukan pengujian. Sejumlah netizen mengecam tindakan aparat tersebut. 

Anggota TNI dan Polri yang bertugas di Kelurahan Kampung Rawa, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, mengakui terlalu cepat mengambil kesimpulan sehingga sempat menangkap pedagang es gabus karena komoditi itu diduga mengandung bahan berbahaya seperti polyurethane foam (PU Foam) atau material busa kasur maupun spon cuci, Sabtu (24/1/2026).

"Kami di lapangan telah menyimpulkan terlalu cepat, tanpa menunggu hasil pemeriksaan ilmiah dari pihak berwenang seperti Dinas Kesehatan, Dokpol, maupun Labfor Polri," kata Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung Rawa, Polres Metro Jakarta Pusat Aiptu Ikhwan Mulyadi dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Karena itu, lanjutnya, pihaknya memohon maaf yang sedalam-dalamnya, khususnya kepada pedagang es atas nama Sudrajat karena terdampak langsung dalam peristiwa itu. Ia memastikan tidak ada maksud untuk merugikan atau mencemarkan nama baik.

Guna mendapatkan informasi lengkap tentang proses pembuatan es gabus Republika mendatangi salah satu toko yang menjual es gabus di Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Rabu (28/1/2026). Di toko bernama King 84 Durian itu, terdapat berbagai jajanan dijual, termasuk es gabus.

Kepala Toko King 84 Durian, Puji (30 tahun), tokonya itu sudah lebih dari setahun terakhir menjual es gabus. Selama itu pula, es gabus yang diproduksi secara mandiri itu banyak diminati pembeli.

"Per minggu kita bisa ngeluarin, berapa? Per minggu 50 sampai 100 lah," kata dia di tokonya, Rabu siang.  

Satu boks es gabus berisi 10 buah itu dihargai Rp 13 ribu. Artinya, dalam sepekan, tokonya itu bisa menjual 500-1.000 buah es gabus.

Menurut dia, pembeli yang belanja di tokonya ada yang menjual kembali es gabus itu. Namun, sebagian dari mereka juga mengonsumsi es gabus itu sendiri atau bersama keluarganya.

Puji memastikan, es gabus yang dijualnya itu terbuat dari bahan yang aman. Es gabus itu dibuat dari bahan tepung hunkwe. Tidak ada sama sekali bahan untuk membuat spons untuk memproduksi es gabus.

"Aman, kalau aman," kata dia.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|